Monday, May 16, 2016

Kang Giwa (9) : "Abah..."




Setelah jenazah Mamat dikebumikan, suasana kini sudah kembali tenang. Ambu masih tertidur lelap karena efek suntikan obat penenang. Di ruang keluarga masih terlihat banyak tamu yang datang untuk  berbela sungkawa. Mereka adalah kolega Abah sewaktu menjabat sebagai kepala sekolah di SMA 3 Sukabumi. Terlihat ada yang dengan khusyuknya membaca surat Yaasin dan do'a untuk almarhum namun tidak sedikit dari mereka yang tak henti-hentinya bertanya kepada Abah tentang kronologis kejadian yang menimpa Mamat. Kasihan Abah yang sudah lelah, harus menjawab berulang-ulang pertanyaan yang sama. Inilah yang seharusnya tidak dilakukan oleh pelayat. Bertanya kepada keluarga yang sedang berduka dengan berlebihan.  

Ketika Ambu mulai kesurupan dan pak ustadz tidak berhasil menenangkan, saat itulah Indri yang sudah lebih dahulu datang ke rumah kami untuk bertakziah, langsung berinisiatif menuju klinik terdekat dan meminta dokter yang sedang praktek di sana untuk memeriksa kondisi Ambu di rumah.

Dokter Andri namanya. Dia pula yang mengobati luka di kepalaku bekas hantaman kayu yang lumayan besar yang dipukulkan Ambu.  Dengan cekatannya dokter Andri menjahit luka robek yang ada di pelipis kananku.

Indri masih duduk di ruang tengah bersama dengan ibu-ibu yang melayat. Matanya terfokus pada Alqur'an kecil yang dipeganginya. Suara bacaan Alqur'an kian ramai memenuhi ruangan. Begitu hangat dan harmonis. Semua tetangga tanpa pamrih membantu kami. Aku bersyukur karena di jaman yang sudah modern ini masih ada pemandangan indah tentang kerukunan antar tetangga yang begitu kental. Aku masih duduk di ruang depan menemani Abah.

"Indri, terimakasih ya, kamu sudah membantu banyak..." Aku berjalan mendekati Indri yang sudah berdiri hendak berpamitan pulang kepada beberapa ibu-ibu yang membantu kami. 

"Iya Kang, sama-sama. Alhamdulillah yang penting semuanya sudah kembali tenang, Akang sabar ya" Jawabnya datar tanpa menatap mataku.

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Mataku kemudian melihat seseorang dari balik pintu kamar Ambu yang terbuka setengah. Dia sedang merapikan peralatan kedokteran yang dibawanya dalam sebuah box khusus. Tak lama setelah itu dia bergegas keluar kamar.  Aku segera menghampiri dan menjabat tangannya.

"Dokter Andri... terimakasih banyak atas bantuannya, Saya tidak tahu bagaimana jadinya jika dokter tidak segera datang tadi. Ohya maaf untuk biaya semuanya berapa dok?" Pertanyaanku hanya dibalas senyuman. Kemudian dia menjawab dengan bijaksana,

"Oh, sama-sama Mas Giwa, jangan berlebihan begitu. Saya hanya menjalankan tugas. Saya senang bisa membantu dan yang terpenting semua sudah kembali normal. Ohya, nanti kalau Ibu Mas Giwa bangun tolong ditenangkan hatinya ya. Kesedihan yang sangat dalam kadang membuat pikiran kosong dan akhirnya bisa tidak terkendali. InsyaAllah Ibu Mas Giwa bisa lebih sabar dan tenang setelah terbangun nanti. Tapi jangan lupa obat rutinnya tetap diminumkan"

Aku menyimak baik-baik penjelasan dokter Andri.

"Maaf, dok? Obat rutin? Obat apa yah?"

"Oh, Abah sudah tahu Mas... nanti dipesankan saja ke Abah ya, maaf saya buru-buru, kalau Mas mau ngobrol sama saya boleh melalui telpon saja nanti"

"Baik dok, terima kasih" Jawabku.

Aku perhatikan dokter muda itu. Dari cara bicara dan pembawaannya, dia sangat karismatik. Wajahnya tampan dan tenang, kupastikan umurnya masih kepala tiga. Begitu baiknya dia, sampai  tidak mau dibayar atas jasanya dan memilih langsung pamit untuk kembali ke klinik.

Aku mengantar dokter Andri sampai ke pintu depan. Kulihat Indri juga sudah siap untuk pulang.

"Ind... pulang ke rumah Bibikmu?" Tanyaku.

"Iya Kang... malam ini menginap di rumah Bibik, besoknya langsung ke kampus lagi. Saya pamit pulang ya Kang?" Jawabnya segera.

"Iya... hati-hati di jalan dan salam untuk Bibikmu ya"

"Iya, salam juga dari Bibik mohon maaf katanya tidak bisa datang kemari. Ohya Kang, hampir lupa, tadi dokter Andri berpesan agar pihak keluarga selalu memantau kondisi Ambu. Kalau Ambu masih belum bisa tenang atau menjadi lebih pemurung dari biasanya, tidak mau berbicara dan sering melamun, tolong hubungi dokter Andri di kliniknya, ini nomor telponnya, Kang." Sebuah kartu nama diberikan Indri kepadaku.

"Akang kapan kembali ke Malaysia?" Tanya Indri.

"InsyaAllah besok." Jawaku.

Kubaca kartu nama yang diberikan Indri. Tertera nama : dr. Andri Firmansyah. Dilengkapi dengan alamat praktek dan nomor handphone yang bisa dihubungi. Otakku berfikir sejenak, hari ini ada dua orang yang sudah menolong kami, yaitu Indri dan dokter Andri. Kok namanya bisa mirip begini ya?Ah, sudahlah.

Indri berpamitan kepada Abah dan beberapa tamu yang ada. Aku melihatnya dari kejauhan sambil merasakan kepalaku yang masih sakit karena luka robek tadi. Ingin rasanya aku bicara banyak dengan perempuan mungil itu tapi kejadian yang menimpaku saat ini lebih membutuhkan perhatianku. Aku dekati Abah yang sudah melepas teman-teman sejawatnya yang sudah berpamitan pulang.

"Bah... " Aku hampiri lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu sedang berdiri di depan pintu sambil memandang tamu-tamu yang berlalu pergi. Abah menoleh ke arahku, tangannya memelukku erat. Kami berdua tak bisa menahan keharuan dan air mata. Lantas kami mengusap bulir bening yang membasahi mata kami itu dengan segera. Pantang bagi seorang ksatria terlalu larut dalam duka.

"Giwa, syukurlah kamu bisa pulang. Ambu sangat terpukul dengan kematian Mamat" Kata Abah sambil menatapku dalam-dalam. Abah mengajakku untuk duduk di ruang depan. Di atas tikar daun pandan yang membentang menutupi luasnya ubin di ruangan itu.

"Iya Bah, Giwa kaget dengan Ambu. Bisa-bisanya sampai kesurupan begitu. Ambu tidak seperti Ambu yang Giwa kenal, Bah"

"Sama. Abah juga tidak menyangka sama sekali kejadian tadi. Sekuat-kuatnya Ambu yang kita kenal, ada titik lemahnya juga. Kamu tahu kan kelemahan Ambu?"

"Maksud Abah?" Aku heran dengan jawaban Abah yang seolah mengorek sesuatu dariku.

"Giwa, maafkan Abah, mungkin kejadian tadi adalah puncak kesedihan dan kekecewaan Ambu saja. Kehilangan Mamat dengan cara tragis tidak pernah sedikitpun terbayang di benak Abah dan Ambu. Wajar Ambu begitu sedih. Dua tahun terakhir ini kamu pun jarang pulang, Giwa. Wajarlah Ambu kecewa. Hanya sesekali kamu menelpon Ambu. Bagi Abah sih bukan masalah, tapi kamu kan tahu sifat Ambu, perasaannya sensitif, namanya juga perasaan seorang ibu... Nah, dalam hal ini kamu berbeda dengan Mamat. Jadi wajar kalau Ambu..."

"Lebih sayang sama Mamat? Dan kenapa yang meninggal itu bukan Giwa saja ya Bah..." Aku memotong pembicaraan Abah. Pandanganku kosong.

"Astaghfirullaah, istighfar Giwa! Bukan itu maksud Abah. Siapa sih yang rela kehilangan anaknya?"

"Kenapa Abah tidak pernah bilang ke Giwa?" Nada bicaraku sudah diliputi penyesalan. 

"Kamu sudah dewasa, Giwa. Bukan anak kecil lagi." Suara Abah mulai melemah.

"Berarti selama ini Giwa egois ya, Bah?"

"Bukan begitu, Giwa. Ini hanya masalah komunikasi saja" Abah berusaha meluruskan.

Aku kecewa.
Dengan diriku sendiri.
Tapi aku belum bisa menerima alasan Abah. Apakah karena aku jarang pulang dan jarang memberi perhatian kepada keluarga lantas Ambu berubah membenci aku?
Aneh. 

Aku berdiri, melangkah gontai menuju kamar Ambu. Abah yang merasa bersalah karena telah melukai perasaanku dengan perkataannya tadi, dengan cepat mengikuti langkahku.

Kubuka pintu kamar Ambu perlahan. Pintu kayu berwarna coklat tua yang terbuat dari kayu jati itu masih terlihat kokoh. Seperti kokohnya Ambu yang selama ini aku kenal. Ambu bukanlah wanita biasa. Dia selalu mendidik kami dengan tegas namun penuh kasih sayang. Kami pun tumbuh menjadi lelaki yang tangguh menjalani hidup adalah karena didikan Ambu.

Abah berada tepat di belakangku. Perlahan aku berjalan mendekati tempat tidur Ambu dan duduk di pinggirnya. Wanita yang tengah terbaring saat ini adalah wanita yang sudah aku sia-siakan kerinduannya. Aku memandangi wajahnya yang sudah dipenuhi kerutan, juga rambutnya yang sudah memutih semua. Ibuku sudah tua ternyata. Dua puluh lima tahun dia membesarkan aku dan Mamat. Selama itu aku belum bisa berbuat banyak untuk Ambu.

Abah mendekatiku, memegangi pundakku berusaha menenangkan. Diusap-usapnya pundakku dengan lembut.

"Mamaat... " Ambu mulai siuman.

"Ambu, istighfar... Mamat sudah tiada. Ini Abah dan Giwa ada di sini menjaga Ambu" Abah mendekati Ambu dan menjawab perlahan.

Ambu menangis. Semakin hanyut dalam kesedihan. Saat Abah ingin memeluknya, Ambu mengelak!  Aku memandang heran.
Ambu sudah tidak kesurupan lagi, bukan?
Kenapa sekarang Ambu berubah sikap kepada Abah?

"Giwa...?" Suara Ambu memanggilku.

"Iya Ambu.. Maafkan Giwa ya Ambu... Giwa banyak salah.." Jawabku sambil mendekati Ambu. Aku pegangi kedua tangan Ambu, aku cium dan kuletakkan tangan kecil Ambu di dahiku. Aku tak kuasa menahan tangis.

Ambu hanya terdiam. Matanya memandang kosong entah kemana.

                                                                        **********
Selepas Maghrib, kami mengadakan pengajian di rumah. Kang Ridwan beserta isteri dan anaknya datang sekitar pukul 7 malam. Maklumlah rumah mereka jauh. Kang Ridwan saat ini bertugas menjadi camat di daerah Jampang Surade. Daerah pedalaman Sukabumi. Untuk menuju ke rumahku dibutuhkan waktu sekitar 4 jam. Kakakku yang pertama itu lulusan STPDN terbaik di angkatannya. Karirnya cukup bersinar. Namun seperti sudah menjadi tradisi kalau awal karir lulusan muda pasti ditempatkan di daerah pelosok terlebih dahulu sebelum di daerah yang lebih dekat ke kota.

Ambu masih dalam diamnya. Ditemani isteri Kang Ridwan, Ambu sudah terlihat lebih tenang. Dia sudah bisa ikut membaca Alqur'an dan rangkaian do'a untuk Mamat.

                                                                          ***********

Pagi-pagi aku sudah bersiap kembali ke Malaysia. Izin dari perusahaan hanya 1 hari.
Aku yang hendak keluar dari kamar, tertahan oleh sebuah suara,

"Giwa... Akang mau bicara empat mata" Kang Ridwan masuk ke kamarku dengan hati-hati. Gerak tubuhnya ibarat seorang pencuri, clingak-clinguk takut ketahuan orang.  Matanya menengok kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaan kami.

"Ada apa sih Kang, sepertinya rahasia begitu..." Jawabku.

Kang Ridwan mengajakku duduk.

" Sssst... jangan berisik, Giwa. Akang mau tanya,  kamu belum tahu tentang Abah?"

"Aduh Kang, kenapa semua jadi misterius begini sih? Ambu... Abah... ada apalagi? aku merasa seperti orang asing sekarang" Jawabku.

"Kamu nggak merasa ada yang aneh dengan sikap Ambu ke Abah?"

"Nggak tahu Kang..."

"Mamat belum cerita?" Kang Ridwan bertanya lagi, membuatku semakin penasaran.

"Belum. Emang ada apa sih Kang? Jangan maen tebak-tebakan, Giwa mau cepat-cepat balik ke Malaysia ngejar pesawat jam 1 siang. Belum lagi di jalan nanti macet... takut nggak kekejar Kang.."

"Gila aja kamu Wa! Mau ngejar pesawat... ya mana bisa?" Kang Ridwan bercanda.

Aku mulai tersenyum mendengar guyonan tadi. Tapi kutahan karena isyarat jari telunjuk Kang Ridwan yang ditempelkan ke bibirnya menyuruh aku untuk tidak berisik.

"Ayolah Kang, mau ngomong apa sih?" Desakku dengan suara berbisik.

"Wa..., dua minggu yang lalu.... Abah sudah menikahi perempuan itu..."

"Hah???"


(Bersambung)
















 





8 comments: