Monday, August 26, 2019

Apa Motivasi Terbesar Kita dalam Bekerja ?



Berbicara tentang motivasi, khususnya dalam bekerja, mari kita berlayar ke dalam relung hati yang paling dalam. Berbeda dengan niat, yang sudah tentu kita bekerja adalah untuk ibadah, motivasi merupakan energi yang menggerakkan niat menjadi perbuatan. 

Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda-beda. Seorang ayah bekerja untuk menafkahi anak dan isterinya, anak bekerja untuk menghidupi orangtuanya, kakak yang berjuang demi sekolah adik-adiknya atau seorang ibu yang berkorban ekstra waktu dan tenaga untuk membantu sang suami agar kebutuhan hidup terpenuhi sebagaimana mestinya. 

Apa yang menjadi motivasi kita ? Jika ada di dalam salah satu kriteria di atas, coba bayangkan, betapa energi besar siap mengantarkan kita pada kinerja terbaik. Jangan bicara tentang motivasi langitan untuk memajukan kantor tempat kita bekerja atau menghebatkan Indonesia, coba kita evaluasi tentang motivasi terdekat dengan keseharian kita. Apakah tega kita bekerja dengan malas dan serampangan padahal rezeki yang kita dapat nantinya itu untuk memberi makan, minum dan sekolah anak-anak kita? Apakah kita tega juga mengisi hari-hari di tempat kerja dengan hal-hal yang buruk disaat banyak jiwa yang menunggu kebaikan tercurah dari hati kita. 

Ini tentang refleksi hati. Apakah kita sibuk dengan hal-hal yang mengotori hati dan menyakiti hati orang lain? Disaat kita dituntut untuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Keberkahan dalam rezeki, ilmu dan usia yang Alloh titipkan kepada kita harus menjadi perhatian yang benar-benar. Karena banyak dari kita lalai dan membiarkan hari berlalu tanpa kemanfaatan. 

Ini tentang pengingatan. Bahwa kebaikan akan kembali lagi kepada kita. Kesungguhan dalam menjalankan amanah akan mengantarkan kita pada keberkahan. Mari kita perbaiki hati kita, ucap kita dan sikap kita. Demi binar-binar bening yang merindu pelukan hangat dan sapaan manja. Demi mereka yang rela menggantungkan harapan besarnya kepada kita dan berdoa untuk kesuksesan kita. 

Tanpa niat yang benar, kerja kita sia-sia.
Tanpa motivasi yang kuat, kerja kita tidak bernyawa.
Tanpa kebaikan, kerja hanya luapan ambisi dan cita-cita dunia

Mari kita berkarya!
Memberikan kinerja terbaik dalam setiap amanah yang kita terima.
Karena kata Buya Hamka, kalau kerja hanya sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja. 






Friday, August 16, 2019

Tagline-nya Ngena Banget !


Beneran, ngena banget!
Tagline "SDM unggul, Indonesia Maju" aku akui ini keren. Bangsa ini sedang krisis jati diri, SDM adalah permasalahan utama saat ini. Sudah berapa banyak SDM kita yang unggul? Unggul dalam hal apakah? Pendidikan? Kinerja? Integritas? Kreativitas? Moralitas? 

Tentu, harapan para pemimpin kita tak main-main. Teringat pekikan Bung Karno saat beliau meletakkan masa depan kepada para pemuda, bahkan cukup 10 pemuda!
Pemuda-pemuda UNGGUL pasti bisa mengguncangkan dunia.  

Jangan sampai SDM kita yang berlimpah ini seperti buih di lautan. Mudah tergoyah, mudah terpecah.

Bangsa ini tempat kita kita berteduh. Seburuk kita mengecam tapi kaki kita tetap berpijak dan bertopang padanya. 

Bangsa adalah komunitas besar. Kita sokong dari lingkaran terkecil. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat juga tempat kerja. 

Mari kita ciptakan SDM yang UNGGUL agar memajukan bukan menjemukan, agar membanggakan bukan memalukan, agar menenangkan bukan merenggangkan... 

Dirgahayu Republik Indonesia tercinta
74 tahun adalah usia tak terkira, 
Kita syukuri dengan sumbangsih ide, gagasan, karya dan cinta. 

Wednesday, January 17, 2018

"Kaleidoskop Mimpi"



Teman, pernahkah terlintas di benakmu untuk melihat setahun ke belakang ? Apa saja mimpimu yang sudah tercapai di tahun itu? Apa saja mimpi yang belum tercapai dan menjadi mimpi di tahun berikutnya? 

Mimpi. 
Seorang Andrea Hirata saja percaya pada mimpi. Bahkan saking percayanya, dia menuliskannya "Bermimpilah tentang apa yang kamu impikan". Maksudnya apa coba? Kok mimpi berlapis mimpi? Apa jatuhnya tidak jadi mengkhayal? Cobalah tengok kisahnya di film Laskar Pelangi, semua berawal dari mimpi. Hingga saat menjadi nyata kita akan ternganga dan terpana dibuatnya. 

Aku juga seorang pemimpi. Sejak kecil sampai sekarang, tidurku tidak pernah tanpa mimpi. Kata dokter, itu artinya aku tidak pernah pulas. Otakku tidak beristirahat. Mulai dari mimpi indah sampai mimpi ujian matematika belum belajarpun aku sering. Pusingnya luar biasa.

Tapi bukanlah itu yang aku maksud ya teman, pemimpi disini adalah aku bermimpi dalam keadaan sadar. Tentang apa yang ingin aku capai, walaupun impian lucu seperti aku ingin kurus yang berkali-kali menjadi langganan hutang impian di tahun berikutnya. Pernah begini, "kalau aku kurus, aku akan dibelikan mobil". Curang, suamiku memberi janji itu dengan percaya diri karena isterinya susah komitmen dengan target yang satu ini. Heran, padahal aku tidak gemuk-gemuk amat yah, kenapa sih? 

Lupakan tentang mimpi kurus yang sama sekali tidak penting. Makanya, buatlah list impianmu sebanyak-banyaknya. karena dengan begitu, akan ada banyak peluang kita mewujudkannya. Ibarat tubuh ini prajurit, kita sudah memberikan komando di tahun ini kita akan "menyerang" target yang mana. Semua akan berjalan seiring dengan apa yang kita inginkan. Karena akal, pikiran, tubuh butuh pendorong agar bisa berfungsi baik. Impianlah motornya. 

Di tahun 2017 lalu, aku banyak mendapatkan pengalaman dan tentunya impian yang menjadi kenyataan, bahkan, impian yang tidak aku impikan. Ada juga impian yang mustahil tapi bisa juga kesampaian. Aku tak pernah ragu akan kekuasaan Alloh. Haqqul Yaqiin... Dia pasti mengabulkan mimpi kita jika itu untuk kebaikan. Jika ada yang belum terkabul, jangan menyerah, teruslah berbaik sangka kepada Alloh dan bersyukur dengan apapun yang kita punya. 

Selamat bermimpi dan jangan lupa untuk mem-bangun-kannya!

"Jangan menulis! Cukup ceritakan saja..."




Assalamu'alaikum semua, 
Malu rasanya ketika membuka kembali blog yang selama ini tak pernah aku sentuh lagi. Bertambah malu ketika saat membukanya aku lupa alamat email yang aku pergunakan sebagai akunku di web blogger ini. Aku tersenyum.... Ya Alloh, sudah selama itukah aku mengabaikan "rumah" virtualku ini? Rumah tempat aku berbagi cerita, berbagi hikmah dan berbagi inspirasi. 

Maafkan aku ya.... 
Salah satu resolusiku di tahun 2018 ini adalah membenahi kembali rumah yang sudah aku tinggalkan ini. Rumah dengan cat berwarna toska yang sudah lusuh tertutupi debu tebal, halaman yang dipenuhi ilalang yang tingginya melebihi lututku, kusibak perlahan dan aku langkahkan kakiku ini....

Aku pandangi rumahku, masih berdiri kokoh dengan luas lebih dari 200 meter persegi. Terdapat 8 kamar yang aku setting untuk tamu yang ingin berkunjung, sudah mirip seperti "Home Stay" dengan nama "Labirin Toska". Seperti halnya sebuah labirin, aku ingin setiap tamu yang datang akan tersesat di dalam dan akan membuka setiap kamar untuk mencari jalan keluar. Jika ada tamu yang senang dengan ilmu, ada kamar "Berbagi Ilmu", untuk yang senang dengan cerita yang menggugah semangat, ada kamar "Cerita Seru", saat kita ingin merefleksikan diri dengan sebuah cerita, ada kamar "Cermin", untuk pecinta cerita pendek berisi kisah inspiratif ada kamar "Cerpen". Salah satu cerpenku yang berjudul "RAYA" alhamdulillah sudah masuk ke dalam antologi bersama komunitasku di One Day One Post yaitu "LOVE PASTA".

Ada kamar khusus yang menceritakan tentang curhatanku sehari-hari aku namakan "Diary". Selain itu ada satu kamar pavorit yang sering membuat para tamu penasaran akan cerita tentang aku sebagai Candy dan pujaan hatiku yang kunamakan Kang Giwa, yaitu kamar "Diriku", alhamdulillah lumayan banyak penggemarnya karena berhasil membuat baper dan sudah berhasil dikumpulkan ke dalam sebuah buku, walaupun penerbitnya teman sendiri dan masih indie, tapi rasanya bahagia sekali karena ada akhirnya aku punya buku juga. Di kamar inilah biasanya tamu-tamu tidak ingin keluar lagi, maunya disitu aja...

Kamar lainnya adalah media untuk sharing ilmu tentang profesiku sebagai apoteker yaitu  "Konsultasi Obat Online", walaupun ini hanya sebagian kecil karena untuk konsultasi obat aku mempunyai website tersendiri yaitu www.informasi-obat.com. 

Kamar terakhir adalah kamar dikhususkan untuk para tamu yang hanya singgah sebentar dan ingin mendapat pencerahan jiwa, yaitu kamar "Puisi". Banyak puisi yang aku tulis secara spontan dan menggelitik.

Tak terasa air mataku menetes melihat kedelapan kamar yang sudah tak terurus dan mungkin sudah tidak ada tamu yang berkunjung lagi. Aku bayangkan jika ada tamu yang datang dari jauh dengan harapan bisa menginap di kamar-kamar yang sudah aku sediakan, tapi ketika mereka sampai di alamat yang mereka tuju, ternyata rumah itu sudah tak berpenghuni lagi. Tak ada penjaga bahkan yang mengurusi segala keperluan di rumah itu. 

Sekali lagi, maafkan aku...
Semua terjadi karena banyak hal, kesibukan yang selalu menjadi kambing hitam dan rasa malas yang selalu memenangkan pertarungan...

Bismillaah, semoga di tahun 2018 ini, mengiringi mimpi-mimpi besarku, rumah ini akan aku hidupkan kembali. Aku tidak akan memberi banyak janji, karena mungkin sudah banyak yang teringkari... niatku dalam hati, semoga janji-janji lamaku kepada para pembaca bisa aku penuhi di tahun 2018 ini. 

Aku sengaja mengganti Tag Line blog dengan kalimat, "Jangan menulis! Cukup ceritakan saja...". Kalian pasti memahami maksudnya ya, itu adalah sebuah penyemangat terselubung, seperti yang sedang aku lakukan saat ini, aku tidak sedang menulis kok, aku hanya sedang bercerita saja... 


Sunday, January 1, 2017

Anakku



Anakku,
Sahla Hafidzah Az-Zahra
Nisrina Taqiyyah

Ini Umi, 
Mengalir deras air mata umi saat membaca tulisanmu
Di selembar kertas buram yang kau lipat dan kudapati di meja belajarmu
Kau tulis dengan judul "Ibuku", seperti layaknya sebuah puisi

Anakku,
Maafkan umi menuliskan puisimu di blog umi
Hanya ingin menjadi pengingat umi yang mungkin selama ini telah membuatmu khawatir
Pengingat agar umi senantiasa memperbaiki diri 
Cerdas dan santunnya kamu saat bait pertama menuliskan, "kadang"
Mengkritik keras tapi kau meluluhkannya sendiri
Mengingatkanku tapi kau akhiri dengan memujiku...
Cinta, semoga akhlak muliamu akan selalu kau jaga ya...

Karena Rasulullah,
Diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia
Bukan untuk menjadikan kita pintar saja, cerdas saja, sukses saja
Tapi... untuk apa semua itu jika akhlakmu tidak terjaga? Ucapanmu tidak terjaga? 

Jikapun kita khilaf suatu saat, 
Kembalilah Nak, kembali baik... kembali pada jalan yang diridhoi-Nya
Ringankan hatimu untuk meminta maaf dan memaafkan...
Tapi tegaskan dan kokohkan sikapmu ketika kehormatan dan agama kita dinistai

Anakku,
Kau pemerhatiku, 
Dalam sikap dan tingkah polah anak-anak seusiamu yang mulai beranjak remaja
Kamu bisa menjadi GURU bagi siapapun yang mengenalmu, termasuk umi

Anakku, 
Maafkan jika umi jauh dari sempurna, 
Tidak ada impian besar seorang IBU selain menjadikan waktu, perhatian dan tenaganya habis untuk mengabdikan diri dalam amanah hakikinya, di singgasananya, di syurganya...
Baitii... Jannatii...
Tidak ada yang lebih membuat umi termenung lama setelah shalat kecuali apakah umi sudah menjadi seorang isteri dan ibu yang baik? 

Anakku, 
Setiap sebelum shalat berjamaah, kalian selalu memelukku dengan ucapan "Huugg, Mommy...!" 
Itu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup umi, karena pelukan kalian adalah sumber kekuatan
Dan setiap sehabis shalat umi tidak bosan-bosannya menciumi kalian dan bertanya,
"Apakah umi seorang ibu yang baik?"
"Apakah kelebihan dan kekurangan umi?"
"Apa yang terbayang di pikiran kalian saat mendengar nama umi?"
 

Dan jawaban kalian selalu membuat umi merasa terharu.
Kalian begitu ringan memaafkan, Nak...
Saat umi mengatakan, "Maafkan umi ya kalau umi belum bisa menjadi ibu yang baik.."
Dan jawabanmu adalah... 
"Umii... enggak kok... you are so kind... umi sibuk bekerja karena harus membantu orang sakit yang butuh obat,kan?" 
Saat itu umi hanya akan membalas dengan senyuman... 

Dan, kalian akan tersipu saat aku memuji kalian dengan...
"Teteh... kok kamu cantik banget sih? Serius lho nggak bohong!"
"Ririn, coba ya umi hitung bakat dan kelebihan kamu... wow! Ada 11 ternyata, keren!"
"Teteh itu cahaya yang menerangi rumah ini dengan tilawah panjangmu... 5 Juz? umi saja 1 juz belum tentu bisa, sayang"
"Ririn, kamu itu seperti Tinker Bell... kreatif dan selalu bisa memperbaiki sesuatu, tidak bisa diam kalau di rumah... selalu harus ada yang dibuat"

Anakku,
Maafkan umi ya, 
Bekerja itu bukan keinginan... tapi amanah 
Sebuah ibadah... bukan cita-cita... 
Sebuah sarana ujian... bukan kesenangan.

Anakku. 
Kalian selalu membuat umi bangga, setiap hari, setiap detik...
Do'akan umi ya dalam setiap sholatmu
Jangan pernah sekalipun kalian meninggalkan sholat...

Umi ingin menjadi seorang ibu yang baik.... selalu. 







Tuesday, December 20, 2016

Mencoba memulai lagi...


Apa kabar para pecinta Kang Giwa?
Sudah kangen banget ya? Apalagi saya.

Maksud hati ingin melanjutkan cerita bersambung ini, tapi setelah berada di depan "Acer One 10" yang baru dihadiahkan oleh suami tercinta, tetiba otakku buntu. Berfikir sejenak apa yang harus aku lanjutkan dengan cerita Kang Giwa ini? Tidakkah episode terakhir sudah bisa menjawab rasa penasaran pembaca setia? Tentang Kang Giwa yang pada akhirnya bertemu Candy dalam situasi yang sangat mengharu biru. Menyesakkan jiwa dan kalbu. Cerita segitiga yang terbangun tanpa rencana. Terkuak sudah teka-teki yang selama ini disembunyikan Alif tentang sosok perempuan yang sudah meluluh lantakkan hatinya. Terjawab sudah rasa penasaran Giwa tentang Candy yang tidak pernah memberi kabar berita atau tidak pernah membalas semua suratnya.

Apa lagi yang kalian nantikan, kawan?
Apakah perlu aku tuliskan rangkaian tulisan Giwa dalam suratnya kepada Candy?
Seperti ini...

Assalamu'alaikum wr.wb
Indri, apa kabar?
Bagaimana kuliahmu sekarang? Lancar? Sibuk apa?
Beasiswamu masih cukup?
Bagaimana kabar bibik dan keponakanmu?
Suka main ke rumah akang di Sukabumi nggak? Menengok ambu?

Akang sebentar lagi selesai penelitian di Petronas. Banyak pengalaman yang akang dapatkan di sini. 
Akang juga ditawari untuk bekerja dan melanjutkan S2 gratis.
Menurut kamu gimana?

Sebenarnya akang ingin menepati janji ke kamu tapi kenapa surat akang tidak pernah kamu balas? Ngambek ya? Karena sudah lebih dari enam bulan akang belum memberi kepastian? Punten pisan, maaf banget, akang tersita dengan kesibukan. Bukannya akang tidak perduli atau melupakan janji. Akang serius kok sama kamu, Ind. Nggak main-main.  

Tolong jawab surat ini, berikan masukan agar impian kita bisa terwujud.
Atau... apakah ini hanya impian akang sajakah?
Kamu sudah mempunyai impian yang lainkah?

Akang tidak ingin larut dalam perasaan yang nggak genah ini. Akang tidak ingin kecewa dengan surat-surat yang tidak pernah kamu balas. Apa maksudmu, Ind? Akang sudah buntu mencari-cari probabilitas atas hubungan kita.  

Akang ingin pulang ke Jakarta, tapi tidak bisa kalau urusan di sini belum selesai.
Semoga Alloh menjaga kemurnian niat kita ya.
Aamiin.

Sekali lagi tolong... balas surat ini,

Wassalam,

Muhammad Giwana

Bagiamana? Sudah cukup?
Yaudah, kalau belum cukup, nanti malam aku lanjutkan ya, tadi itu cuma pemanasan. Sekarang mau pulang dulu, sudah hampir setengah lima sore.







Sunday, December 18, 2016

Hujan deras dan kelucuan yang terjadi


Kemarin, sewaktu aku pulang dari kantor Kementrian Hukum dan HAM, aku punya cerita menarik. 
Kalau kalian bertanya ada urusan apakah aku di kantor itu? 
Tenang, bukan urusan yang berat tentang hukum atau hak azasi manusia, tapi urusan hak cipta. Alhamdulillah sertifikat "catatan penciptaan" atau lebih dikenal hak cipta yang aku urus semenjak bulan Pebruari sudah selesai. Penantian yang berujung manis.
Ada yang menarik dari sertifikat itu. Setelah aku baca kata demi kata, sampailah pada pejabat yang menandatangani di bagian terakhir, sisi kanan bawah, alangkah aku terkejut! Karena apa? karena pejabat tersebut bergelar profesi yang sama denganku yaitu Apoteker! Coba dech perhatikan baik-baik di gambar, kelihatan, kan? Ada "Apt" - nya.

Seolah tidak percaya, tapi memang nyata adanya. Otomatis aku mulai kepo. Aku googling di Yahoo (Hehe... becanda a la Cah Lontong) bagi yang nggak "ngeh", Salam Lemper aja dech! Nah, kembali ke ceritaku, bersyukur Alloh telah menakdirkan adanya media canggih pencari data di dunia maya ini sehingga aku menemukan sosok yang sangat membuatku penasaran.  



 Ibu Erni yang sebelah kiri ya, yang memakai baju batik warna pink.

Itu satu. 
Yang kedua? Adalah ada cerita menarik pula. 
Setelah urusan selesai, hujan deras datang dengan gempita. Aku yang baru saja keluar gedung langsung lemas tak berdaya. "Bagaimana ini?" Jarak antara Kuningan - Meruya adalah jarak yang tidak dekat. Apalagi ditambah kondisi hujan deras begini, benar-benar membuatku sedikit khawatir. Bukan menyesali hujannya ya, bagaimanapun hujan adalah rahmat. Mungkin semesta ikut bersyukur dengan kebahagiaan yang aku dapatkan hari ini.

Allaahumma Shoyyiban Naafi'aan. Yaa Alloh, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat. 

Aku duduk di tangga luar gedung. Beberapa orang melakukan hal yang sama, jadi aku ada temennya juga, nggak malu gitu... sambil memandangi hujan, aku teringat pada... dia yang selalu menemaniku ketika aku pergi jauh. Selalu setia mengantar aku kemanapun. Tentu setelah aku klik "ORDER" dan kalau jaringan internet tidak bermasalah. 

Aku utak utik aplikasinya. Eh, Jawabannya "Error... bla..bla..bla.. please try again.." . Haduh, bagaimana aku pulang ini?? Sudah sore sekali. Sudah aku coba order ojeknya, mobilnya, tetep nggak bisa. Pake aplikasi kompetitornya, sami wae.. podo wae! Semua error. Wah, mungkin karena cuaca hujan deras, jaringan jadi terganggu. 

Pasrah. Aku kemudian memandangi hujan kembali. Dan cara terakhir adalah mencari taxi sajalah. Sayang, booking taxi via telpon hanya bisa melayani untuk jemput ke rumah. Jadi, aku tentu harus mencari taxi keluar gedung atau meminta tolong satpam. Okelah! 

Taapii... sedetik sebelum aku melangkah, tetiba aku mendengar handphone-ku berbunyi. "Kriiingg...!!" Eh, nggak gitu juga kali. Handphone-ku ringtone-nya begini,
  "Kita saling mengingatkan...Jangan gunakan tanpa anjuran... mari saling mengingatkan... jangan gunakan tanpa aturaan..."

Itu tadi lagu edukasi obat untuk masyarakat yang dibuat bersama dengan anggota ODOP yaitu mba Heni Susilowati dan mas Urip Widodo. Ingin tahu keseluruhan lagunya? Sabar ya, tunggu launchingnya nanti. 
Ohya, kembali ke ceritaku, ternyata yang menelpon aku adalah abang Gojek! Kok bisa ya? Padahal aku tidak berhasil melakukan booking Gojek melalui aplikasi. Tak lama kemudian abang Gojek datang. Dia sudah lengkap memakai jas hujan dan langsung menghampiriku. 

"Mba, tadi yang order Gojek, kan?" Tanyanya emastikan. 
"Iya sih Bang, tapi tadi nggak ada report berhasil booking. Sudah dua kali saya pesan." Jawabku sambil menunjukkan wajah keheranan.  

"Kok masuk ke saya yah orderannya? Mba tujuan ke Meruya, kan?" 
"Iya"
"Yaudah naik Mba, kita berangkat aja. Mba tau arahnya?"
"Enggak" Jawabku lugu. Si abang diam tak menjawab.

Singkat cerita aku sudah naik di motor matic abang Gojek yang begitu cool ini. Setelah keluar gedung, abangnya nanya lagi,"Mba, ini belok ke kanan atau ke kiri?", aku menjawab, "Kanan deh kayaknya", dan abang Gojek mengambil kiri.

Ini orang maksudnya apa sih? Aku kan nggak tahu jalan, masih ditanya juga. Udah gitu aku jawab salah pula, kan aku jadi malu. Sepanjang jalan tidak ada obrolan apa-apa, hanya derasnya hujan yang semakin mengguyur kami.

"Mba, saya heran deh, kok aplikasi bisa eror begini ya? Baru kali ini saya dapat kejadian begini. Kenapa ya?"

"Mana saya tahu Bang, ya Alhamdulillah saya ada yang antar pulang hujan-hujan begini."

"Apanya yang eror ya?"Penasaran banget sepertinya. jawabanku sama sekali tidak dihiraukannya. Idih, nyebelin!

Setelah sampai di kantorku dan hujan mulai mereda, kubuka helm dan jas hujan yang dipinjamkan si abang Gojek.

"Makasih ya Bang... ini uangnya"
"Oh iya, sama-sama Mba. Saya mau numpag duduk di sini ya Mba... masih penasaran kenapa aplikasinya eror, saya mau lihat dulu sebentar apanya yang salah".

Belum aku mempersilahkan, dia sudah duduk di teras depan kantorku lalu asyik dengan handphone-nya. Serius sekali. Sebelum aku mati gaya atau dicuekin lagi, kulangkahkan kakiku ke dalam ruangan kantor sambil otakku berputar kecil, "Ini abang Gojek apa programmer ya?"

Aneh.



 

Jatuh Cinta Lagi




Mungkin benar, cinta itu adalah sebuah rasa yang tidak bisa hilang walaupun kita berusaha untuk menghilangkannya. Menjauhinya bukanlah sebuah solusi, nyatanya kita akan selalu teringat dan teringat lagi. Ada tips menarik dari seorang teman, "Janganlah berusaha untuk melupakan, tapi berusahalah untuk membiasakan ia hadir dalam ingatan kita" .

Itulah yang aku rasakan sekarang.
Semakin berusaha melupakan semakin berat beban yang aku pikul dalam pikiran. Semakin jauh aku berlari, semakin dekat ia menghampiri. Berusaha dengan berbagai cara agar aku bisa lepas dan memilih jalanku sendiri, tapi tetap aku kalah.

Sudah aku coba dengan berbagai alasan tapi selalu gagal. Awalnya aku senang ketika bisa menjadikan alasan itu sebuah pelarian. Aku pikir, cara inilah yang paling aman untuk menghindar. Setidaknya, lambat laun semua akan kembali seperti semula. Tidak ada yang terjadi dan aku kembali menjadi diriku sendiri.

Bohong banget!
Sehebat apapun aku menghindar, perasaan itu selalu menghantui. Naasnya lagi, aku ini seorang penakut! Lengkaplah penderitaanku sekarang. Dihantui setiap hari oleh perasaan cinta yang tak kunjung hilang. Salah siapa berani jatuh cinta? Seandainya tidak mencoba mungkin tidak akan begini jadinya. Awalnya cuma iseng aja, kupikir ini tidak akan serius. Beneran, cuma iseng!

Bahaya!
Keisengan berujung petaka. Bagaimana tidak? Dari mulai enam baris, satu halaman, dua halaman, berlembar-lembar bahkan sambung-menyambung. Menggeliat bagai ombak dengan deruan terdahsyatnya, menyayat setiap mata, menusuk relung jiwa hingga berbuah rindu.

"Mba, kapan "Kang Giwa"-nya dilanjut lagi?"
"Kangen tulisanmu, Mba!"
"Mak, ayo menulis lagi..."
"Jadi penulis tetap di web ODOP ya macan... tulis artikel kesehatan"
"Target kita enam seri ya, cerita edukasi obat untuk Gema Cermat, Si Gema dan Si Cermat!"
"Bu, minta nomor handphone-nya, kalau kami butuh tulisan, nanti kami hubungi Ibu!"
"Beneran cerita kemenangan OBOR kayak sinetron? Kutunggu tulisanmu!"

Baiklah...
Semua "rengekan" di atas membuatku terpacu lagi, kendati aku bukan dan sangat jauh dari sempurna...
Takdir itu memilih, sekalipun kita tidak pernah meminta...
Ya,
Aku jatuh cinta lagi!

One day One Post.... peluk aku! Aku sudah kembali!



Sunday, July 17, 2016

Seperti Deja Vu?



Sayang untuk tidak aku tuliskan.
Pembicaraan antara aku dan lelaki kaku pujaan hatiku.

"Dek, kamu pernah nggak merasa hati kita seperti gimanaa gitu... bertanya-tanya kenapa saya tiba-tiba ada di dunia?"

Sebuah pertanyaan yang tidak biasa.
Namun inilah pertanyaan yang untuk kesekian kalinya terucap dari bibirnya. Tanpa dia sadari sudah berulang-ulang aku mendengarnya. Namun herannya, dia masih merasa itu selalu penting untuk dibahas lagi dan lagi.

"Merasa hampa? Merasa kosong?" Jawabku.

"Bukan Dek, pernah nggak merasa... sejenak lepas dari hiruk pikuk duniawi dan merenung sejenak tentang hakikat kita hidup di dunia? Ada perasaan takut... sampai-sampai Abi nangis kalau merasakannya"

Berat.
Tema yang selalu menyadarkan aku sebagai seorang abdi-Nya.

"Seperti... apa ya Dek? Abi sering merasakan ini terutama selepas sholat... seperti kemarin selepas sholat Jum'at... "

Kulihat tatapan matanya. Ada sebuah misteri. Entah perasaan seperti apa.
Lalu kujawab,

"Seperti Deja Vu?"

"Mungkin ya?" Jawabnya. Matanya masih memandang gamang. Terlihat raut kelelahan yang sangat. Ya, aku tahu dia sedang memikul beban yang berat.

Dan aku yakin jawabanku tidak sepenuhnya tepat. 

Apapun itu Bi, yakinlah bahwa perasaan itu adalah anugerah.
Tidak semua orang bisa merasakan kedekatan yang sangat dengan Rabb-nya atau kesadaran yang hebat akan sebuah hakikat penciptaan manusia.

Beratnya amanah di dunia. Penatnya agenda hari-harimu. Aku yakin bahwa semua sudah digariskan Alloh. Ada pesan yang harus dilakukan.

Merubah yang tidak baik menjadi baik.

Seperti di keluarga kecil kita ini. Kau selalu menjaga dan mengingatkan kami. 

Terimakasih Abi...

Kau jenius.

Deja Vu adalah perasaan ketika kita yakin pernah mengalami atau menyaksikan suatu kejadian sebelumnya, kamu merasa peristiwa itu sudah pernah terjadi dan berulang lagi. Hal ini diikuti dengan perasaan familiar yang kuat, takut dan merasa aneh.




Saturday, July 16, 2016

"Memutar Memori"





Assalamu'alaikum wr.wb
Tangerang, 17 Juli 2016
Apa kabar? 
Lama tak berjumpa ya, kangen juga. 
Bagaimana kabarmu di sana? 
Baik-baik aja, kan? Semoga. Aku juga di sini baik-baik aja. 
Met Lebaran yah, mohon maaf lahir dan bathin. Masih ada ketupatnya nggak? Atau nastar? Kastangel? Kirim sini!
Hmm... lanjutin nggak ya? 

Sunday, May 29, 2016

Sedikit-sedikit saja



Malam ini aku terbangun pukul 23.00 WIB. 
Inilah kebiasaanku sehabis menidurkan puteriku yang kedua. Ikut terlelap dan kemudian terbangun di jam-jam yang "nanggung" seperti ini. 
Kuambil air wudhu dan shalat Isya. Dilanjutkan dengan tilawah Qur'an melanjutkan lembar-lembar sebelumnya. Masih di surat Al-A'raf.  

Syahdunya suasana malam adalah saat-saat yang paling aku sukai. Tak jarang jika aku terbangun di malam hari maka bablas sampai aktivitas di pagi harinya tanpa terlelap walau sekejap.  Entah kenapa aku menyukai hening. Bagiku, hening adalah sumber inspirasi. Untuk apapun itu. 

Saat hening pula, imajinasiku bisa melayang kemanapun aku mau. Menuliskan apapun. Baik puisi, cerita pendek, cerita bersambung atau hanya cerita diary seperti ini bisa dengan lancar aku tuliskan.
Tapi sisi buruknya adalah besoknya badanku sedikit kleyengan dan kepalaku cenat-cenut. Hal itu aku abaikan karena kepuasanku terhadap apa yang sudah aku hasilkan dari hening adalah kenikmatan yang tak terkira. 

Bagaimana tidak? 
Sebagai seorang isteri, ibu dan seorang pegawai tentu waktuku banyak tersita. Jadi, agenda menulis menjadi terkesampingkan. Padahal setiap hari perasaan berdosa senantiasa menyelimuti. Ya, berdosa banget rasanya kalau tidak menulis. Apa boleh buat? Aku bukan wonder woman yang bisa melakukan segalanya. Kemampuanku terbatas. 

Seperti kemarin, aku harus fokus dengan tugas di kantor yaitu menyiapkan materi dan segala sesuatunya untuk menerima tamu dari Asosiasi Apoteker Sri Lanka atau Pharmaceutical Society of Sri Lanka (PSSL) yang ingin melakukan studi banding ke tempatku bekerja. Suatu anugerah dan kebanggaan tersendiri akhirnya aku bisa berbagi ilmu dan pengalaman kepada mereka walau dengan bahasa Inggrisku yang pas-pasan. Kalau dihitung-hitung sudah lama sekali tidak presentasi dalam bahasa Inggris. Sepuluh tahun mah ada. Alhamdulillah acara sukses. Aku berniat mengasah kemampuan English-ku setelah ini. Kedua puteriku adalah native speaker yang setiap hari siap membantu.

Kenapa begitu? 
Kok bisa?

Begini ceritanya, kedua puteriku memang agak unik. Bahasa sehari-hari mereka di rumah dominan bahasa Inggris. Aku tidak pernah mengajarkan apalagi meminta. Setiap kali mereka berbicara dalam bahasa Inggris aku selalu menjawabnya dalam bahasa Indonesia, kadang bahasa Sunda. Mereka sih enjoy-enjoy aja. Nah, baru terasa sekarang hikmahnya. Coba aku sedari dulu mengikuti cara komunikasi mereka, mungkin lidah ini tidak akan terlalu kaku ketika berbicara dengan orang asing. Maksud "asing" di sini bule yah atau orang dari luar negeri. 

Kenapa puteriku bisa lancar berbahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari? 
Aku saja tidak tahu. Entah kapan dimulainya, tanpa aku sadari mereka sudah jadi seperti ini. 
Kalau diingat-ingat, Puteriku yang besar terpapar bahasa Inggris sejak rajin main game online. (Hadeuh... jangan ditiru yah). Ternyata game online ada sisi positifnya yaitu membuat anak kita pandai berbahasa. Selain bahasa Inggris, anakku juga bisa tahu bahasa Jepang. Maklumlah karena game-nya berbahasa Jepang. Aku tidak habis pikir, kok ya bisa-bisanya. Sering aku agak keras dalam mengingatkan puteriku itu agar tidak terlalu lama bermain game onlne. Kadang berhasil, kadang tidak. Tapi mau bagaimana lagi? Karena Si Kakak ini prestasi di sekolahnya aman-aman saja. jadi ya, aku hanya bisa memantau saja. Mungkin ini hiburan baginya sekedar melepas penat setelah seharian mengasah otak di sekolahnya yang full day. Ada kelebihan lain yang dimiliki Si kakak yaitu kemampuannya dalam bahasa Arab. Ini yang membuatku iri setengah mati.

Kalau puteriku yang kecil beda lagi, sejak ia berusia 1 tahun sudah terbiasa menonton film kartun dalam bahasa Inggris. Awalnya sepele. Aku lupa mengganti subtittle atau dubbing ke dalam bahasa Indonesia. Lama-lama keterusan. Alhasil, puteriku yang kedua itu mempunyai kemampuan vocabulary dan conversation yang luar biasa. Dengan kakaknya yang sudah duduk di bangku SMP saja bisa nyambung lho padahal dia baru duduk di kelas 2 SD. Kalau ke mall, orang-orang mengira anakku itu bersekolah di International School atau Bilingual School. Padahal mah enggak!
Anakku bersekolah di Sekolah Dasar Islam biasa. Kemampuan bahasa Inggrisnya malah tidak dia tampakkan di sekolah. Pas aku tanya kenapa, jawabnya lucu : "Itu adalah rahasiaku, Mommy... nanti kalau mereka tau, dikiranya aku sombong". Aiihh ada-ada saja ya.

Apakah ini anugerah? Pasti!
Alhamdulillaah. 

Kembali ke ceritaku ya.
Saat inilah yang aku tunggu-tunggu. 
Aku terbangun dan menjumpai hening dengan segala kerinduanku pada aktivitas menulis dan membacaku. Aku seperti pencuri. Keluar di malam hari dan menjalankan aksiku tanpa diketahui oleh orang rumah. Suami dan kedua puteriku sudah tertidur lelap. Terkadang kalau lagi iseng, aku pandangi mereka dan aku ciumi satu per satu. Mereka tidak sadar. Saking pulasnya mungkin. Sambil memandang mereka, aku panjatkan do'a tulus untuk kebaikan dan keselamatan orang-orang yang aku cintai itu. Do'a yang aku haturkan dengan senyuman paling manis, semanis nikmat yang telah Allah berikan kepadaku sampai detik ini. 

Saat hendak memulai aktivitas malamku, tetiba aku teringat sesuatu!
Bukuku yang sudah sengaja aku pisahkan karena sedang aku cicil membacanya, tiba-tiba menghilang entah kemana. Wah, ini pasti ulah ibu mertuaku yang super baik itu, membereskan buku-buku di atas lemari tivi. Aku sengaja menyimpannya di situ agar mudah aku mengambilnya dan mudah aku membacanya. Eh, ternyata sudah dibereskan ke lemari buku dengan urutan yang tidak sesuai kategorinya. Waduh, alhasil, tadi aku menghabiskan waktu 30 menit untuk mencari dimana gerangan "mutiara-mutiara"-ku tersembunyi. 

Alhamdulillah, akhirnya ketemu. 
Oke, let's start the mission!

Malam ini, aku mau membaca beberapa buku sekaligus!
Bukan sombong, ini wajar kok. Wong aku membaca bukunya nyicil, sedikit-sedikit saja. 
Inilah metode yang paling cocok buatku. Apakah karena aku termasuk tipikal "random abstrak" ya? 
Membaca satu buku sampai selesai bagiku membosankan!
Aku bukan kutu buku. 
Aku lebih menyukai membaca beberapa dan aku tandai sampai mana, besoknya aku baca kembali. 
Hal ini banyak manfaatnya karena aku bisa mengambil hal positif yang beraneka ragam. 

Entah ini baik atau buruk. 
Bagiku, yang hanya memiliki sedikit waktu, "sedikit-sedikit saja" adalah metode yang paling pas.
Buku apa saja yang sedang aku cicil? Ada dech... 

Dan setelah membaca sedikit-sedikit saja tadi,
Aku akan memulai menulis cerita "KangGiwa" yang sudah dinanti-nanti readers setiaku. 

Baiklah, itu saja diary kali ini. 
Aku mau "mencuri" dulu ya.... sstttt... jangan berisik...




Sunday, May 22, 2016

Nggak Tau Kenapa...



Tadi pagi, aku dan suami mencoba membuat video edukasi obat. Lucu dech. Beberapa kali "take" salah terus. Mulai dari kamera handycam yang goyang membuat hasil gambar jadi kabur, aku yang lupa naskah, pelafalan yang kurang jelas dan pakai acara nge-blank di tengah-tengah syuting lagi. Baru ngerasain ternyata jadi artis capek dong yah. Aku aja yang cuma membuat video amatiran terasa banget pegelnya. Tapi setelah melihat hasilnya ada rasa puas luar biasa. 

Nggak Tau Kenapa... 
Dulu, suamiku pernah bilang, "Dek.. coba dech kita buat video edukasi obat, nanti kita taro di website dan di yutube. Video singkat-singkat aja, nggak usah yang berat-berat.." 

Aku menanggapinya dengan gamang. Sudahlah pekerjaanku menyita waktu, amanah di rumah juga masih "keteteran" , sekarang mau ditambah dengan acara syuting video. Hadeuhh... apa nggak sekalian aja bikin film pendek atau sinetron kejar tayang? Begitu gerutukku dalam hati waktu itu. 

Tapi herannya, nggak tau kenapa, ide suamiku itu kok bisa-bisanya terkabul juga. Seperti apa yang terjadi hari ini. Aku sudah memulai video pertamaku. Dan bukan karena aku yang ingin lho ya. Ini juga terpaksa karena tuntutan tugas di kantor. Aku harus membuat inovasi. 

Kembali lagi, seperti de javu
Apa yang dulu tercetus sekarang meletus! 
Inikah yang namanya takdir? Setahun yang lalu terbersit... menjadi nyata hari ini. 
Sekuat apapun aku berusaha menghindar tapi akhirnya ketemu juga. Mau bagaimana lagi? Semua harus dijalani. Terimakasih duhai suamiku yang selalu setia menemani dan membantuku.

Tuntutan profesi agar aku mengamalkan ilmu yang sudah aku dapatkan di bangku kuliah dulu. Ilmu tentang obat dengan segala seluk beluknya. Mulai dari khasiat, cara penggunaan, efek samping sampai dengan interaksi obat. Selepas aku lulus profesi apoteker, suamiku menghadiahi aku sebuah website yaitu : www.informasi-obat.com, hadiah yang sekaligus PR buatku sebenarnya. Di website itu ada kategori konsultasi online. Hal ini pada awalnya aku tolak,

"Bi, aku kan baru lulus, udah gitu belum pengalaman apa-apa, nggak mau ah, takut, menjawab konsultasi obat itu buat apoteker yang sudah ahli bukan seperti Umi ini.." Kataku pada suamiku yang aku panggil Abi, . Kemudian jawaban suamiku apa coba? Begini, "Dek, apakah ada peraturan bahwa apoteker yang baru lulus itu tidak boleh menjawab konsultasi? Saya heran, sebagai orang awam saya pikir apoteker ya apoteker! Dia adalah tempat bertanya seputar obat. Dek, kalau Adek tidak mau mencoba dan tidak berani, kapan mau pinter? Nanti ilmu kamu nguap lho! Lagian orang awam tidak butuh jawaban njelimet sampai rumus kimia obat atau reaksi obat, kan?"

Nyess banget... Jawaban itu yang membuat aku bersemangat belajar menjawab konsultasi obat walaupun dengan jawaban yang sederhana dan jauh dari sempurna. Perlahan tapi pasti lama-lama juga akan berkembang dan lebih baik.Nggak tau kenapa, akhirnya aku nyebur juga.

Aku tidak pernah menyangka. 
Profesi sebagai apoteker membawaku sudah sejauh ini. Aku pernah bekerja di apotek selama 4 tahun lebih, di situ aku mendapat banyak ilmu dan pengalaman. Jumlah obat yang entah berapa ratus item sudah kuhafal semua. Learning by doing, karena aku praktek di apotek setiap hari. 
Kebetulan apotek tempat kerja pertamaku selepas lulus apoteker itu mempunyai praktek dokter yang lengkap mulai dari dokter umum, gigi, spesialis penyakit dalam, anak, mata, THT, syaraf dan kulit. Coba itu... banyak sekali bukan? 

Aku bersyukur karena di apotek aku menjadi kaya ilmu obat dan penyakit. Mahir membaca tulisan dokter yang berbeda-beda. Mulai dari tulisan ceker ayam sampai sandi rumput lengkap semua. Kaget sekali ketika pertama kali melihat resep dari dokter spesialis anak yang terlihat seperti garis lurus dan sedikit lekukan di awal, tengah atau hanya ujungnya saja. Kok bisa-bisanya ya? Ternyata kuncinya adalah di persediaan obat kita. Hafalkan saja sediaan obatnya maka kita pasti bisa membacanya. Kebetulan dokternya sudah bertahun-tahun praktek di apotek kami. Aku banyak dibantu oleh apoteker dan asisten apoteker senior yang sangat sabar mengajari dan membimbingku yang masih hijau ini. Pengalaman dengan pasien pun sudah tak terhitung jumlahnya. Pernah salah obat? Tentu pernah, wong resepnya minta ampun banyaknya. Tapi alhamdulillah semua bisa dilalui dengan baik dan mulus. Tidak sampai terjadi hal fatal karena sudah langsung terdeteksi jika ada salah pemberian obat. Aku merasa sangat lega. Melayani pasien itu ada kepuasan dan tantangannya tersendiri. Terimakasih untuk tim apotek yang sudah memberiku hari-hari paling seru dan berharga.

Selain bekerja di apotek aku juga mengajar di sekolah menengah kejuruan farmasi. Tentu saja aku sudah mempunyai bekal pengalaman selama di apotek yang bisa aku bagikan kepada para calon asisten apoteker itu. Aku mengajar Farmakologi, Undang-Undang Farmasi dan menjadi pengawas praktek farmasetika di lab. Aku termasuk guru yang suka mencari-cari metode mengajar yang unik dan menyenangkan. Karena bagiku, murid itu akan sangat bergantung pada cara guru mengajarinya. Jika mereka senang maka ilmu pun mudah tersampaikan. Pernah aku memutar film "Lorenzo's Oil" hanya sekedar untuk membuka wacana mereka tentang ilmu farmasi yang bisa melahirkan keajaiban. Bagi yang penasaran, silahkan browsing di yutube ya, seperti apa film yang dibintangi oleh Susan Sarandon dan Nick Nolte itu. Keren banget menurutku, luar biasa perjuangan orangtua untuk kesembuhan anaknya sampai-sampai bisa menemukan formulasi minyak yang bisa membantu penyembuhan penyakit Lorenzo. Kalau suka duka mengajar pastinya sama. Mulai dari anak murid yang jail, iseng dan ada juga yang baik hati dan lucu. Komplit! Terimakasih ya murid-muridku yang tiada duanya.

Dua dunia yang kujalani berbarengan. Membentuk aku menjadi pribadi yang lebih matang. Walaupun capeknya pake bingits.. tapi aku senang menjalaninya. 

Sampai pada suatu saat, ketika lelah itu sudah sampai ubun-ubun. Terucaplah do'a, "Ya Allah, aku ingin bekerja tapi yang bisa libur sabtu dan minggu, bekerja yang bisa memberiku ruang untuk mengatur ritme dan tenagaku.  Bekerja yang membuat aku mengenal banyak hal dan pengalaman. Aku ingin lebih banyak waktu untuk keluarga... aku capek, Ya Allah.. mengajar itu perlu energi besar dan kesabaran tingkat Harvard. Bekerja di apotek pada malam harinya juga melelahkan bukan kepalang. Aku ingin perubahan yang lebih baik Ya Allah... " 

Dan nggak tau kenapa... Allah mengabulkan do'aku... setelah beberapa kali gagal dalam menjalani test cpns. Akhirnya aku lulus test di pemda DKI Jakarta, tepatnya pada tahun 2011.

Disinilah aku sekarang. Di sebuah puskesmas yang luar biasa. Walau di puskesmas tapi aku mendapatkan banyak pengalaman dan kesempatan emas. Walau kami sadari belumlah sempurna tapi teman-teman sejawat banyak yang ingin mendapatkan sharing ilmu dari kami. Alhamdulillaah semoga bermanfaat untuk semua. Pencapaian ini tak akan ada tanpa kesolidan dan kerja keras dari tim puskesmas yang kece badai, terimakasih ya Nak!

Berbagai pelatihan, undangan menjadi narasumber dan tim pembuat kebijakan sudah aku dapatkan. Padahal akupun masih belajar. Semoga saja semua itu cara Allah memberiku pelajaran berharga, Bertemu dengan orang-orang hebat membuatku semakin bersemangat. Ingin sekali seperti mereka yang kompeten sekali di bidangnya. Kagum saya dengan mereka! Ada yang ahli di bidang Farmasi Rumah Sakit, Perguruan Tinggi Farmasi, Organisasi Profesi, Dinas Kesehatan dan tentunya para pemegang kebijakan di Kementrian Kesehatan. Aku mah apa atuh? Begitu kata Cita Citata. Terpilih menjadi wakil Farmasi Komunitas khususnya Puskesmas yang rajin melahirkan inovasi membuatku menjadi takut. Kenapa? Iya, takut kalau-kalau apa yang aku lakukan sebenarnya tidak hebat-hebat amat. Tapi itulah Maha Pemurahnya Allah. Dia memberiku banyak kesempatan untuk belajar dan terus belajar. Dengan segala keterbatasanku, jikalah dipandang luar biasa semata-mata karena Allah menutupi kekuranganku. Banyak yang lebih baik daripada aku...Banyak teman-teman sejawat dari propinsi lain yang tak kalah hebatnya seperti Uni Helen Asy-Syifa, pemeran Angela dalam duet penulisan kami yaitu cermin Devila-Angela. Aku banyak belajar dari beliau. Salut dengan semangatnya yang selalu konsisten. Juga ada Mba Maria Amandit yang keren banget. Banyak sekali teman-teman sejawat apoteker yang sudah singgah di hatiku. Berjuang bersama-sama demi kemajuan profesi. Terimakasih ya gaes..!

Nggak tau kenapa... 
Impian-impianku untuk farmasi di puskesmas terwujud satu per satu. Indaaahh sekali. Ya Allah... nikmat-Mu begitu besar untukku. 

Impian yang selalu bergandengan dengan berbagai ujian dan cobaan yang mendewasakan dan menguatkanku. 

Sebanding. 

Nggak tau kenapa...
Air mataku kini mengalir deras, teringat semua perjuangan untuk mencapai impian ini. Menuliskan cerita ini adalah juga berkat pertemuanku dengan ODOP, One Day One Post yang dibidani oleh Bang Syaiha. Terimakasih atas ilmu dan tips-tips untuk membuat tulisannya ya, Bang! Aku akhirnya mempunyai sebuah blog yaitu : www.labirintoska.blogspot.go.id 
Kalau di blog, aku menjadi diriku yang lain lho. Kalau penasaran, cekidot aja!

Nggak tau kenapa, cerita "Muhammad Giwana Sang Ksatria" atau lebih dikenal dengan "Kang Giwa" begitu melekat kuat ibarat lem super glue yang dijual abang-abang di bis, yang kalau sudah dipakai nempelnya nggak mau pergi. Hehehe...

Sekarang aku tahu kenapa... 

Dia...

Ya, jawaban dari semua ini adalah : Dia yang Maha dari segala Maha...




Saturday, May 7, 2016

Dua Masa Kecil



Senyumku merekah.
Mataku tak henti-hentinya memandangi wajah manisnya yang mempesona. Dengan kostum tari Badinding yang sebentar lagi akan tampil membuka acara seminar pendidikan, puteriku bersama sembilan temannya telah bersiap-siap. Acara festival kreasi dan seni yang diadakan di sekolah puteriku itu sudah dimulai sejak dua hari yang lalu. Acara yang terdiri dari pentas seni, pameran, wisuda Alqur'an dan yang terakhir adalah seminar pendidikan. Seminar yang sedianya rutin diadakan setiap tahun ini selalu menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Kali ini Prof. Arief Rahman Hakim didaulat untuk memberikan tips dan trik dalam mendidik anak secara efektif terutama dalam bidang pendidikan. Sebelum acara inti dimulai, hadirin dimanjakan dengan penampilan anak-anak siswa SMP dan tak lupa perwakilan dari guru. Lengkap! Ada marawis, puisi, paduan suara dan aneka tari. 

Kupandangi lagi puteriku dari atas sampai bawah. Dia sudah besar ternyata.


Namanya Sahla dan aku memanggilnya Teteh Lala. Aku perhatikan tinggi badannya sudah melebihi tinggi badanku. Sangat berbeda. Padahal dia baru menginjak kelas 1 SMP. Bagaimana nanti kalau dia sudah kuliah ya? Bundanya kecil mungil kontras dengan ananda yang tinggi semampai bak peragawati. 

Anakku yang pertama ini mempunyai sifat pendiam dan pemalu. Kalau di sekolahnya dia terkenal sangat kalem dan anggun. Kalau tidak ditanya, dia tidak akan berbicara. Sampai-sampai ada temannya berujar begini ketika mendengar anakku tiba-tiba berbicara, "Sahla bisa ngomong juga ya?" Aduh sampai segitunya ya. Belum lagi sifatnya yang kalem dan misterius ini membuat teman-temannya yang laki-laki menjadi penasaran. Suatu hari sepulang sekolah Si Teteh cerita bahwa ada kakak kelasnya yang selalu mengikuti dia.

"Umi... Lala sebel banget dech. Tadi ada Kak Stalker yang ngeliatin Lala pas ke kantin" Katanya.
"Stalker? Siapa dia? Kok Teteh sebut dia stalker kenapa?" Aku balik bertanya.
"Soalnya dia itu kepoin Lala di Facebook, instagram, LINE... sebel dech!" Gerutunya.
"Resiko Teteh wajahnya cantik..." Godaku.
"Emang Lala cantik apa, Mi?" Jawabnya memastikan.
"Iyalah... uminya aja cantik, pasti anaknya cantik juga kan?" Aku masih menggoda puteriku itu. 
Lucu. Melihat wajahnya yang tersipu malu. Langsung saja dia berlari menuju kamarnya. Aku hanya tersenyum memandang dari kejauhan dan melanjutkan aktivitasku di dapur.

Kelebihan puteriku yang pertama adalah kecintaannya pada hafalan Al-Qur'an. Begitu mudahnya dia menghafal membuatku terkagum-kagum. Dia menjadi siswa akselerasi dalam hafalan Qur'an di sekolahnya. Sekarang hafalan dia sudah 2 juz, yaitu juz 30 dan 29. Saat ini dia sedang fokus melanjutkan hafalannya ke juz 1. Alhamdulillaah, semoga menjadi hafidzah ya sayang...

Ada lagi kelebihan puteriku yaitu bakatnya dalam menggambar manga. Hobi menggambarnya ini kadang bisa menghabiskan waktu sampai berjam-jam di kamar. Aku sering menegur dan mengingatkan agar dia bisa membagi waktunya dengan baik. Jangan sampai waktu libur habis untuk menggambar di kamar saja. Anak-anak sekarang sudah berbeda dengan zamanku dulu, saat masih minimnya sarana belajar dan juga permainan saat itu membuat aku dan teman-temanku dulu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Kadang bermain ke sawah atau kebun. Berenang di kali... Aihh...indahnya masa kecilku. 

Selain dua kelebihan tadi, ada lagi bakat puteriku yang lain yaitu kepiawaiannya dalam mengotak-atik komputer. Macam-macam aplikasi didownload dan hal ini pula yang sering menyebabkan laptop hang dan berujung pada omelan ayahnya. Hehehe... 

Ada kelebihan tentulah ada sisi kekurangannya. Puteriku mempunyai sifat ceroboh dalam hal-hal kecil. Kadang tidak merencanakan sesuatu dengan matang jauh-jauh hari. Suka panikan. Puteriku juga kurang tanggap terhadap pekerjaan rumah tangga. Kalau tidak disuruh pastilah cuek dan asyik dengan hobi menggambarnya. Dan hal ini pula yang sering aku bandingkan dengan masa kecilku yang sejak kelas 3 SD sudah diajari mandiri dan harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari mencuci baju, mencuci piring, menyapu halaman, berbenah rumah, memasak sayur bening dan menjaga adik. Luar biasa sekali waktu itu. Aku bahkan tak mengerti kenapa seorang puteri Pak Lurah sepertiku ini  tetap saja tidak istimewa. Ibuku dulu mendidikku dengan keras. Kadang aku malu dilihat teman-teman dan tetangga.  

Ada kejadian masa kecilku yang paling membuat aku malu.
Jadi dulu itu, kami tidak mempunyai kamar mandi di rumah. Maklumlah, di sebuah desa di pedalaman Sukabumi yang saat itu listrik saja belum masuk, kehidupan warga masih sangat sederhana dan terbatas sekali. Termasuk aktivitas mandi. Aku harus berlomba-lomba pergi ke tempat pemandian umum. Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di sana. Tak lupa dengan titipan dari Ibuku yaitu satu baskom berisi cucian piring bekas makan tadi malam. Dan aduuh kok ada satu buah wajan hitam pula. Repotnya bisa dibayangkan yah, pagi-pagi mau sekolah aku tetap harus membantu pekerjaan Ibu terlebih dahulu. Tapi tidak apa, aku sudah terbiasa, teman-temanku juga sama. Kami semua menikmatinya tanpa ada keluh dan kesah.

Aku bersama dengan dua orang temanku melakukan semua aktivitas rutin kami pagi itu. Setelah selesai, kami mengenakan kain untuk menutup tubuh. Aku adalah yang paling kecil diantara teman-temanku. Mereka badannya lebih besar dan tinggi. Saat perjalanan pulang,  kami harus melewati jalanan besar. Tempat lalu lalang motor, ojek dan beberapa mobil truk atau pick up yang mengambil hasil panen. Tak lupa orang-orang yang berjalan kaki hendak menuju kebun atau anak-anak yang berangkat sekolah.

Lalu apa yang membuat aku malu? Apa yang terjadi? 
Jadi, ketika hendak menyebrang, aku terkaget-kaget dengan sosok yang lewat di depanku. Siapa dia? 
Pak Guru...! 
Hwuaaaa.... aku malu setengah mati!

Seorang anak kecil dengan berbalut kain bermotif batik dengan tangan kiri menyanggah sebuah baskom berisi cucian piring dan tangan kanannya memegang wajan hitam? 

"Neng Indri...?" Sapa guruku sambil menatapku keheranan disusul dengan senyuman di bibirnya.

Tak sempat aku menjawabnya, aku langsung berlari menuju rumahku yang tepat berada di seberang jalan. 

MALU.










Friday, April 29, 2016

Ada Yang Aku Takutkan...



Dua hari ini ada yang aku takutkan. Setelah bergabung di komunitas One Day One Post (ODOP) yang sudah berlangsung selama  hampir 2 bulan ini, setidaknya ada 3 hal yang membuatku takut.

Apakah itu?

1. Persepsi pembaca

Aku takut jika tulisan-tulisanku membuat para pembaca menerka-nerka. Apakah ini kisah nyata? Apakah murni imajinasi saja? Apakah Si Penulis adalah pemeran yang sebenarnya? Bukan ketakutan yang tidak beralasan. Untuk aku yang bukan seorang penulis profesional tentu orang-orang terdekatku banyak bertanya tentang tulisanku. Termasuk suamiku sendiri. Kisah "Muhammad Giwana Sang Ksatria" contohnya, tak pelak membuat suamiku cemburu. Pernah muncul percakapan seperti berikut ini :

"Dek, sebenarnya Kang Giwa itu siapa? Seseorang yang istimewa waktu Adek kuliah ya?" Tanya suamiku suatu hari. Jleb! Perasaanku mulai tak karuan. Dicemburui suami terhadap tokoh tak kasat mata. 

Aku menjawab pertanyaan suamiku, "Nggak ada Bi, itu murni tokoh khayalan Umi saja... mana ada sih sosok yang nyaris tanpa cela seperti itu?"

"Siapa tahu ada, cuma Umi saja yang nggak menyadarinya... " Jawab suamiku sambil cemberut.
Aku spontan tertawa saat itu. Wajah lelaki yang paling aku cinta itu lucu sekali kalau lagi ngambek. Kuhampiri segera dan aku cubit perut gendutnya dan aku gelitikin dia. Suamiku tertawa kegelian.

"Abi jangan cemburu doong, nanti imajinasi Umi jadi nggak berkembang... malah jadi takut kalau mau buat cerita romansa nanti dikira beneran..." Lanjutku sambil menatap matanya dalam-dalam.

Suamiku hanya bisa tersenyum, membelai kepalaku dan berujar, "Umi berarti pengkhayal tingkat tinggi ya, tidak apa-apa sayang, lanjutkan saja hobi Umi ini. Kalau Abi mah nggak bisa menulis seperti itu."

Ya, begitulah kira-kira. Itu baru persepsi suamiku, belum lagi persepsi teman-teman dekatku. Semua lucu-lucu. Ada yang penasaran dan menagih kelanjutan ceritaku setiap hari laksana seorang debt collector. Ada juga yang melakukan interogasi sederhana terhadap tokoh yang aku jagokan tersebut. Penantian mereka menjadi energi yang kuat untuk mendorong semangat menulisku dari hari ke hari. 

Namun ada pula teman yang sangat kritis dan menyampaikan kritikannya secara personal kepadaku. Katanya, tulisanku kadang kurang konsisten. Terutama dalam point of vew. Terkadang aku memulai dengan sosok Kang Giwa yang bercerita. Tapi kadang aku bercerita seperti ada orang ketiga yang menjadi pengantar cerita. Aku baru menyadarinya. Jadi malu rasanya karena memang cerita itu aku tulis dengan spontanitas saja. Tanpa alur yang sudah aku tetapkan sebelumnya. Kadang hanya alur yang melintas di benakku dan aku simpan di salah satu lobus otak untuk aku pakai dikemudian hari. Dari sini aku mulai berbenah dan menyiapkan diri untuk belajar lagi, lagi dan lagi.

Akupun takut ketika sosok imajinasiku ini  membuai khayalan para pembaca. Apakah ini tidak berlebihan? Nanti kalau ada yang membandingkan sosok Kang Giwa dengan pemuda idamannya bagaimana? Aduh apakah aku jadi ikut berdosa? Jangan-jangan karena ceritaku ini semua gadis menetapkan kriteria terlalu tinggi untuk calon suaminya kelak. Kasihan juga para lelaki di ujung sana yang mendapat penolakan untuk kesekian kalinya. Ini bahaya juga khan..?

Aku baru menyadari ternyata tulisan dapat menghipnotis pembacanya. Tak terkecuali tulisan dari seorang amatiran seperti aku.

2. Kekhawatiran terhadap nilai

 Menulis itu secara tidak disadari sudah menjadi media penyampaian sebuah "nilai". Oleh karenanya saya ingat dengan pesan Bang Syaiha agar kita menulis yang baik-baik saja dan yang bermanfaat. Menulislah untuk kebaikan. Karena siapa tahu dari tulisan kitalah seseorang bisa berubah menjadi lebih baik, terinspirasi bahkan mendapat hidayah ilahi. Sepatuuu.....! Alias sepakat dan setuju dengan pendapat founder ODOP ini. Tulisan bisa menjadi sarana transfer ilmu dan pemahaman. Lantas apa yang aku takutkan? Ya, aku takut jika dalam tulisanku ini nilai-nilai yang baik tidak tersampaikan dengan baik. Atau bahkan aku mencederainya. Aku takut salah dalam membuat penafsiran terhadap nilai itu sendiri.  

Oleh karenanya aku mulai melatih diri untuk membaca setiap hari. Karena inilah cara untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Memang agak sulit dilakukan disaat kesibukan yang sangat padat dan menguras tenaga juga pikiran. Kelelahan yang berujung kemalasan untuk membaca. Aku harus berkompromi dengan tubuh dan mataku yang sudah menyerah kalah. Setelah menjalani hari yang panjang rasanya ingin langsung merebahkan tubuh dan memejamkan mata. Hmm...tapi suatu hari aku melihat postingan Bang Syaiha yang berisi foto-foto orang yang super sibuk tapi tetap bisa menyempatkan waktu untuk membaca, bahkan ditengah-tengah kesibukan mereka, seperti Barrack Obama contohnya. Ketika melihat itu aku jadi tersadar, aku tidak boleh manja dan menjadikan kesibukanku sebagai kambing hitam. Toh, dalam Alqur'an pun perintah membaca ini diabadikan dalam salah satu suratnya, jauh sejak zaman dahulu kala.

3. Hasrat yang menggebu-gebu
Ini dia yang terkadang membuat aku menjadi gila. Bukan gila beneran ya. Maksudnya hasrat yang menggebu-gebu ingin agar tulisanku segera sempurna. Bahkan aku tak segan meminta les privat kepada Bang Syaiha agar aku bisa meningkatkan kemampuan menulisku dengan secepat kilat.
Ketakutanku terhadap hasrat ini adalah bagaimana jika proses belajar yang seharusnya aku ikuti dengan bertahap dan sedikit demi sedikit menjadi akselerasi yang kepagian. Padahal sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang menjalani proses demi proses pendewasaan. Hal ini kadang menjadi alasan kenapa aku suka nakal dalam mengikuti peraturan ODOP. Tantangan per minggu yang sudah ditetapkan oleh Bang Syaiha kadang belum sempat aku penuhi, malah aku beralih ke tantangan  minggu berikutnya. Maaf ya Bang... saya mah orangnya begitu, random abstrak! Seringnya sih karena lupa jadwal. Hehe.

Aku juga takut jika aku melakukan posting tulisan di media sosial terlalu berlebihan. Kuatir sekali jika tulisanku yang masih jauh dari sempurna ini membuat kecewa para pembaca handal yang sudah melahap aneka tulisan berkualitas dari penulis papan atas. Membuat mereka berfikir bahwa aku ini orang yang over percaya diri dengan tulisanku yang masih merangkak seperti bayi.  


Inilah ketakutanku...
Semoga tidak menjadi pelemah semangat untuk terus berkarya,
Karena apa? 
Karena istimewa itu milik kita.... 

#OneDayOnePost
#AlwaysWritingAlwaysSomething









Sunday, April 24, 2016

Biar Penasaran



Hai readers setiaku...!
Terima kasih yah sudah memberi apresiasi pada setiap tulisanku yang masih dalam tahap belajar ini. 

Malam ini sebelum aku beranjak ke peraduan, ingin rasanya menuliskan resensi atau gambaran sedikit tentang rencana 10 tulisanku yang akan segera tayang. Nah, biar kalian penasaran kini akan aku berikan sedikit bocorannya. Hati-hati siapkan payung atau panci, ember juga boleh dech biar bocorannya nggak mbrebes.... 


Bismillaah... 

1. Perempuan yang Kepedean
    Cerita ini berkisah tentang seorang mahasiswi yang over pede. Gadis manis dan energik itu memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan kakak angkatannya saat berkumpul di Mushola kampus : "Ada nggak ya akhwat orang Sunda yang sudah siap menikah?" Kemudian gadis manis ini spontan menjawab, "Saya Mba.. Saya orang Sunda". Apakah spontanitas yang kepedean ini berakhir manis? Bagaimanakah dia ketika mengetahui bahwa calon suaminya itu akan ditugaskan ke tempat konflik di Papua? Apa yang ada di benaknya? Bagaimana jika suaminya kelak pulang hanya nama? 

2. Co-Audit
    Mendampingi auditor handal? Siapa yang tidak mau. Begitupun dengan Bu Indah yang ditugaskan untuk mendampingi auditor ISO 9001 : 2008. Banyak ilmu yang bisa didapat. Selain itu Bu Indah juga harus ekstra cerdas dalam membantu auditee yang panik bukan kepalang. Ada keseruan dan kelucuan. Kenapa ya kalau ditanya auditor, sesuatu yang sehari-harinya mudah lalu mendadak jadi sulit untuk dijelaskan? Bagaimana bisa ada kejadian anak kejepit pintu? Tukang bersih-bersih kejedot pintu kaca? di tengah-tengah audit yang menegangkan...

3. Si Aya dan Jambu Air
    Ini dia kisah Si Aya yang duduk di kelas 4 SD. Hari itu dia hanya berhasil mengantongi uang 50 perak dari jualan gorengannya tadi siang. Apa mau dikata, harga manisan jambu air kesukaannya itu harganya 75 perak. Aya hanya bisa menelan ludahnya. Karena dengan uang yang tinggal 25 perak mau dapat apa? Aduh kisah Aya ini mengiris hatiku... nggak tega dech jadinya, kalau aku bisa mengendarai mesin waktu... akan aku berikan jambu air terbaik untuk Aya. Mau jambu air Citra atau yang import aku kasih dech... kasihan melihat Aya saat itu. Aya oh Aya...
4. Kang Giwa, Kamu Kenapa?
    Kisah yang digandrungi para readers setiaku. Kenapa Kang Giwa seketika tidak peduli dengan impiannya di Malaysia? Dia sangat berduka atas kematian adiknya, Juwa.  Apa yang Giwa pikirkan saat mengetahui bahwa adiknya meninggal ketika ingin menemuinya di Asrama UI? Sesaat sebelum keberangkatannya ke Malaysia. Kesedihan yang sangat. Penyesalan yang tidak seharusnya muncul. Tapi Giwa begitu lemah sekarang... Apakah lencana ksatrianya jatuh sudah? Bagaimana dengan Candy? 

5. Devila-Angela : " Kenapa Minum Obat Harus PAke Air Putih?"
    Nah, ini yang sering dianggap remeh temeh. Meminum obat itu memang harus pakai air putih. Jangan air teh, air jeruk, kopi, susu, apalagi alkohol. Ada lho obat-obatan yang bisa bereaksi dengan zat-zat yang terkandung dalam minuman. Bisa mengurangi efek obat , namun bisa juga menaikkan efek obat. Waduhh... bahaya kan?
6. Ayam Bakar Kedua
    Kisah Si Aya yang menikah muda saat kuliah semester 6. Malang nian kamu Aya... bahkan untuk sepotong ayam bakar pun kamu baru bisa menikmati untuk kedua kalinya setelah menikah? Ada banyak canda dan kepolosan yang membuat suaminya semakin cinta. Penasaran kan dengan Si Aya yang kejepit kursi? Atau Si Aya yang belajar memasak ati ayam yang tak terduga?Atau kisah Aya yang pandai menyenangkan hati suaminya? Romantis.. tis..tis..
 
7. Kimiwmiw yang Dirindukan
    Kalau yang ini adalah cerita tentang kucing kesayangan anakku. Namanya kimiwmiw. Ada sekitar 264 kucing yang sudah mereka beri nama. Penasaran kan? Kenapa tiba-tiba Kimiwmiw menghilang?
8. Saya Jadi Anak Pak Lurah
    Kisah flash back hidupku. Waktu itu ayah dilantik jadi lurah di suatu desa pedalaman. Bahkan listrik pun belum ada. Bagaimana kisah hari-hariku melewati jalan berbatu dan hutan rindang? Kisah hidup terindah yang pernah aku lalui. Saat alam masih begitu murni. Saat seperti bak puteri raja... namun tetap bersahaja...
9. Please... Cukup Diam Saja!
    Oh... kalau yang ini mengajarkan tentang sikap kita yang harus berhati-hati jika berada dalam sebuah tim. Kerja keras dan kelelahan yang dirasakan oleh teman kita janganlah dilukai dengan perkataan yang menganggap remeh bahkan cenderung egois. Jadi, cukup diam sajalah. Karena jika bicara maka kau akan menyakiti rasa. Hingga korsa pun mulai memudar karenanya...
10. Kalau Mau... Jangan Nanggung!
      Wow! Inilah yang dinamakan OBOR! Kalau mau maju bertanding kembali dalam lomba gugus kendali mutu, pilihannya hanya satu: Taklukkan atau tidak sama sekali! Bagaimana perjuangan tim OBOR kali ini? Apakah akan terulang kesuksesannya tahun lalu? Tim yang hebat ... keren dech pokoknya...

Itulah resensi cerita-ceritaku yang coming soon... 

Mau tau ceritanya? Tetaplah di labirintoska...


Saturday, April 23, 2016

Geregetan...!



Memang ini judulnya geregetan!

Aku tidak pernah menghitung hutang. Tapi entah kenapa hatiku pasti merasa tidak tenang. Ini bukan hutang uang. Ini hutang posting tulisan dalam rangka ODOP atau One Day One Post.Tulisanku ini juga merupakan tulisan bayar hutang.

Kenapa geregetan?
Mau tahu ya? 
Kenapa nggak tempe aja? Hehe.

Jadi begini kawan, seminggu ini aku sibuknya luar biasa. 
Aku bekerja di Puskesmas. Tapi jangan salah, ini Puskesmas bukan sembarang Puskesmas. Padatnya aktivitas kami cukuplah menjadi alasan aku pulang di penghujung sore kadang maghrib. Kenapa tidak seperti mereka? Pulang Teng-Go? Aku juga maunya begitu. Tapi gagal maning-gagal maning. Aku nggak ngerti, son! 

Farmasi adalah bagian penting dalam sebuah pelayanan kesehatan. Karena seluruh rangkaian pemeriksaan pasien pasti berujung di kami. Walaupun ada beberapa pasien tidak membutuhkan obat untuk terapi kesehatannya semisal pasien yang datang hanya meminta rujukan saja atau pasien yang tidak sakit. Kenapa tidak sakit malah datang ke Puskesmas? Oh, mungkin ingin melihat Apoteker cantik seperti aku... (Kalau mual, muntahin aja nggak apa-apa kok!).  Tapi tidak jarang malah pasiennya sendiri yang mendikte dokter meminta diresepkan obat ini dan itu. 

Ketersediaan obat menjadi perhatian yang sangat penting. Tahun ini adalah tahun ke-3 diberlakukannya metode e-purchasing obat. Jadi, pemesanan obat saat ini dilakukan melalui e-catalog. Aplikasi ini sengaja dibuat agar memudahkan dan juga menjunjung transparansi. Benar memang, sejak ada e-catalog obat maka harga obat menjadi seragam di seluruh Indonesia. Obat dilelang oleh lembaga lelang pemerintah yang dikenal dengan LKPP ( Lembaga Kebijakan Pengadaan barang dan jasa Pemerintah) secara itemized, yaitu lelang per item obat.

Alhasil pemesanan obat pun kepada masing-masing pemenang lelang tersebut. Dulu, kami membeli obat dengan metode pengadaan langsung dan lelang sederhana. Jadi cukup dengan menentukan siapa pemenang lelangnya, tentu melalui tahapan-tahapan proses pengadaan ya,  maka dialah yang akan memenuhi semua kebutuhan obat kami. Tidak perlu pusing-pusing karena mereka yang akan mengejar waktu. Semakin cepat pemenuhan obat semakin cepat mereka dibayar. Nah, sekarang menjadi berbeda. Kami yang harus aktif melakukan pemesanan melalui e-catalog setiap hari. Namanya sistem yah, kadang suka ada masa "down"-nya karena banyak yang mengakses, kayak kamu tuh kalau lagi sedih akibat diPHPin... (apa sih? nggak gitu juga kali..). Yaudah sih ngaku aja.

 Belum lagi pihak penyedia yang lambat menindaklanjuti pesanan kami. Hadeuhh... bener-bener PHP dech! Pemberi Harapan Palsu... Katanya barang mau dikirim besok.. hari ini... dua hari lagi... tapi nggak dateng-dateng juga. Akhirnya kalau mereka yang tidak memberi kepastian kayak gini... cuma satu solusinya : Tenggelamkan! Begitu kata Bu Susi.
Tinggalkan saja dia, masih banyak kok yang lain yang lebih serius... Sepatu nggak? Sepaatuu dong alias sepakat dan setujuuu... Cakeupp!

Nah, jikalau obat yang dipesan belum datang juga. Disinilah peranku untuk memutar otak mencari solusi. Misalnya meminjam obat ke Puskesmas lain, meminta obat ke Sudin/Dinas dan mencari Puskesmas atau RS yang mau menghibahkan obat. Begitulah kegiatan sehari-hari seputar pengadaan obat di Puskesmas kami. Ribet yah, tapi inilah harga mahal untuk sebuah inovasi yaitu e-catalog obat. Biarlah kami jalani proses ini, lama-lama juga akan ajeg dengan sendirinya. Seperti bahtera rumah tangga, jalani saja prosesnya kelak akan ajeg dengan sendirinya. Asalkan dibangun pada pondasi yang kokoh. Hmm....

Selain masalah pengadaan obat, Apoteker juga berperan dalam pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Apa itu pelayanan kefarmasian? 
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Inilah satu sisi mata uang lainnya yang harus dikuasai oleh seorang Apoteker. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas dibagi menjadi dua yaitu pengelolaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai serta satu lagi yaitu Pelayanan Farmasi Klinis.  

Pengelolaan obat itu aku ringkas menjadi 8P (ini sih nggak ringkas yah... ). Apa saja itu?
1. Perencanaan kebutuhan
2. Permintaan
3. Penerimaan
4. Penyimpanan
5. Pendistribusian
6. Pengendalian
7. pencatatan, pelaporan dan pengarsipan, dan 
8. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan

Pelayanan Farmasi Klinis meliputi 7P, yaitu :
1. Pengkajian resep, penyerahan obat dan pemberian informasi obat
2. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
3. Pelayanan Konseling obat
4. Pelaksanaan Ronde / visite pasien (khusus Puskesmas Rawat Inap)
5. Pemantauan dan pelaporan efek samping obat
6. Pemantauan terapi obat
7. Pelaksanaan Evaluasi penggunaan obat. 

Kalau di benak anda masih terbayang profil Puskesmas yang jaman dulu kala. Yang ini berbeda. 
Puskesmas di DKI Jakarta sudah lulus sertifikasi ISO 9001 : 2008 serta sekarang sedang proses akreditasi. Jadi, kami bekerja dengan prosedur yang jelas dan penilaian kinerja yang ketat. Inilah pula yang membuat kami tidak bisa berleha-leha. 

Lalu, yang membuat geregetan apanya??
Ah masa nggak bisa nebak sih...

Dilema antara kewajiban harus menulis setiap hari dengan tingkat kesibukan di kantor yang sulit mencuri-curi waktu itulah yang membuatku:
 "...geregetan duh aduh geregetan... apa yang harus kulakukan..." Lirik lagu Sherina Munaf. Tau kan? Yuuk.. nyanyikan bareng-bareng... !

Akhirnya aku endapkan saja ide dan judul tulisan yang setiap hari bergerumul di otakku.
Inilah 10 judul tulisannya :

1. Perempuan yang Kepedean
2. Co-Audit
3. Si Aya dan Jambu Air
4. Kang Giwa, Kamu Kenapa?
5. Devila-Angela : "Kenapa Minum Obat Harus Pake Air Putih?"
6. Ayam Bakar Kedua
7. Kimiwmiw yang Dirindukan
8. Saya Jadi Anak Pak Lurah
9. Please... Cukup Diam Saja!
10. Kalau Mau... Jangan Nanggung! 

Penasaran kan? 
Nantikan saja kehadirannya... tetap di labirintoska!