Monday, August 12, 2019

"Tiga Hari Terharu di PITSELNAS KARS V"




Tidak pernah terpikir jika kebiasaan "unik" ini terulang lagi. Bukan kebiasaan "buruk" ketika sesuatu itu bersifat spontanitas. Tapi hadir di acara Pekan Ilmiah Tahunan dan Seminar serta Lokakarya Nasional KARS V Tahun 2019 (PITSELNAS Komisi Akreditasi Rumah Sakit V) dengan tanpa perencanaan jauh-jauh hari membuatku sedikit nakal. Ya, nakal karena mengetuk adrenalin bekerja keras dan tentu merayu pertolongan-Nya untuk datang di detik-detik terakhir.

Akhirnya masuklah aku sebagai peserta dengan pembayaran onsite yang tentu harganya menjadi udema seketika. Gedung Jakarta Convention Center (JCC) yang begitu megah dan mewah disulap menjadi tempat berkumpulnya para pejuang marketing alat kesehatan. Ada sekitar 37 ekshibitor yang siap menjaring peminat yang tak lain adalah mereka para pemegang kebijakan di Rumah Sakit se-Indonesia. Saat pertama kali masuk, mata ini sudah dibuat tergoda melihat demo mobil ambulance advance yang sengaja diletakkan di depan pintu utama. Memasuki ruang pameran KARS Expo, tertata rapi kubikel-kubikel menarik yang siap dijambangi. Duh, bingung memilih yang mana ? Haruskah aku datangi satu persatu ? Gimmicknya lucu-lucu ! Tapi, agenda seminar jauh lebih penting untuk saat ini dibanding berburu tas dan gimmick cantik. Eh, maksudnya berburu info produk terbaru. 

Dengan stelan hitam-hitam, aku berjalan dengan percaya diri, berharap aku terlihat lebih formil dan lebih meyakinkan seperti peserta lainnya yang serba "hitam-hitam", gagah dan terlihat begitu berwibawa. Mereka adalah para surveyor yang terhormat. Berjalan dengan langkah khas para petinggi ilmu yang rata-rata tinggi usia, melewati stand pameran, menyapa hangat kolega-koleganya, berfoto selfie dan wefie di photo booth atau dimanapun mereka bertemu. Di area pameran poster inovasi dan penelitian hasil karya Rumah Sakit, di ballroom utama tempat seminar dan workshop instrumen akreditasi terbaru bahkan di antrian restroom pun tak membuat mereka jengah untuk bertegur sapa. Suatu pemandangan yang hangat. Tawa riang, pekikan senang, candaan girang menyiratkan jiwa-jiwa yang  ingin lepas dari rutinitas tugas. Aku tersenyum simpul. 

Pertama memasuki ruangan ballroom, terharu mendengar suara Ibu Menkes yang sedang memberikan kata sambutan sekaligus membuka acara. Dilanjutkan dengan rangkaian seminar yang bertemakan "Akreditasi Rumah Sakit di Era Revolusi Industri 4.0". Acara ini berlangsung selama tiga hari dari tanggal 5 sampai dengan 7 Agustus 2019, dengan pembagian materi yang padat meliputi tiga sidang pleno di hari pertama kemudian besoknya ada tiga menu menarik yaitu free scientific paper podium, lomba pengembangan aplikasi IT terkait akreditasi dan lomba video simulasi akreditasi dan marketing RS terkait akreditasi yang berisi inovasi-inovasi terkini. Hari terakhir diisi dengan workshop survei terfokus pada pelayanan beresiko tinggi. Semua lengkap di dalam buku standar dan instrumen SNARS edisi 1.1 yang tak luput diborong habis oleh ratusan peserta. Wow! KARS memang luar biasa. 

Aku senang tak terkira! Di sela-sela acara aku bertemu dengan para surveyor yang baru saja menilai RS dimana aku sekarang bertugas yaitu RSUD Kebayoran Lama. Aku pertama kali bertemu dengan surveyor medis, Bpk. dr. Rahaju Budhi Muljanto, Sp.KJ di pameran poster. Kemudian bertemu dengan Ibu drg. Ida Irmawati, M.Kes surveyor manajemen dan terakhir aku bertemu di ballroom dengan surveyor paling spesial yaitu Ns. Bayu Hendro Hastanto, S.Kep yang membidangi keperawatan, yaitu bidang yang menjadi amanahku sekarang.


Tak disangka pula, aku bisa bertemu dengan surveyor yang menjadi pembimbing dan penilai dalam survey simulasi (Sursim) akreditasi, yaitu Ibu Siti Rochmani,S.Kep,M.Kes dan Ibu Rohani Azis, S.Kep,M.Kes. Jadi, lengkap sudah silaturohim dengan semua surveyor yang membimbingku dalam akreditasi kemarin. 


Banyak sudah bekal yang bisa aku bawa pulang ke RS nanti. Selain ilmu baru juga inovasi-inovasi unik yang bisa direplikasikan di RS aku, yaitu :

1. Inovasi dari RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto yaitu "Tele Apik" (Teyeng Ndeleng Antrean Pendaftaran dan Poliklinik) yang artinya "Dapat melihat antrean pendaftaran dan poliklinik". Inovasi ini selain bermanfaat bagi pasien yang akan berobat dengan pendaftaran online dengan jam layan, juga sangat efektif dalam meningkatkan ketepatan waktu praktek para dokter spesialis. Aplikasi ini sudah terintegrasi dengan e-medical record. Mantap Betul!

2. Inovasi menarik dalam pencegahan resistensi antimikroba dari RSUD dr. Iskak Tulungagung yaitu "Marmer" (Mencegah Resistensi Antimikroba melalui Efisiensi Restriksi), sangat bagus karena terbangun komitmen bersama dari para dokter dan seluruh tenaga kesehatan dalam mengendalikan penggunaan antibiotik yang rasional. Keren ini, bisa dicontoh!

3. Inovasi "Gancang Aron" (Gugus Antisipasi Cegah Antrian PanjaNG dengan AntaR Obat ke rumah Pasien) dari RSUD. Blambangan, Banyuwangi yang juga masuk ke dalam lomba inovasi SINOVIK Top 40 tahun 2018. Apalagi yang ini, sangat mudah untuk direplikasi! 

4.  Inovasi "KOMPAK MUTU" dari RSUD dr. Iskak Tulung Agung yang mengoptimalkan peran MPP (Manager Pelayanan Pasien) dalam meningkatkan mutu pelayanan dengan cara mempertemukan DPJP yang lebih dari satu yang menangani pasien penyakit kompleks sehingga kolaborasi lebih baik dan terapi tidak overlap. Ini juga bagus sekali karena peran MPP di RSUD Kebayoran Lama sedang mulai dikuatkan. 

5. Inovasi dalam mengurangi sisa makanan pasien di rawat inap anak dengan pemberian garnish dan pengolahan data dengan metode Comstock di RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo, Makasar. Waah, garnishnya lucu-lucu, dicetak menyerupai boneka, wajah tersenyum dan bentuk unik lainnya, warna-warni sudah pasti menarik mata. Selain itu, salah satu parameter KPI-ku sebagai Kasie Kepjangmed bisa meningkat dengan inovasi ini.  

Itulah lima inovasi yang bisa diterapkan di RS-ku, karena paling memungkinkan dan paling dibutuhkan untuk saat ini. Inovasi lainnya bisa dipilih-pilih lagi di laman pitselnas.com dan kars.id untuk mengunduh materi workshopnya. 

Semakin semangat untuk Continuous Improvement di era disruptif dan era 4.0 ini, karena sejatinya perubahan adalah sebuah proses dan kesuksesan bukanlah sebuah hadiah. 

Kata-kata bijak dari paparan Ketua PERSI yang dikutip dari Albert Einstein menutup acara dengan sangat elegan yaitu, "Cobalah untuk tidak menjadi manusia sukses tetapi manusia bernilai". Bagiku hal ini sejalan dengan hadits Nabi, "Khoirunnaas anfauhum Linnaas" , sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.  







Wednesday, April 27, 2016

"Kalau mau... jangan Nanggung!"



Sudah pertemuan ketujuh.
Tim OBOR sudah menentukan tema dan outline inovasi yang akan dilakukan.

Inilah dinamika tim. 
Mulai dari memilih tema, menentukan ide kreatif sampai dengan merencanakan pelaksanaan inovasi. Jujur saja, kadang langkah yang kami lakukan tidak mengurut dari langkah 1.2,3 dan seterusnya. Kenapa? Karena terkadang ide itu muncul begitu saja. Dan bukan hanya karena ide saja sih, tapi juga karena kami "dipaksa" membuat usulan anggaran kegiatan Gugus Kendali Mutu dengan sangat rinci. Akhirnya kami menguras otak agar mendapatkan ide inovasi dalam waktu cepat. Kalau tidak, nanti anggaran tidak keluar. Bahaya, Kan? 

Oke, usulan anggaran sudah dibuat dengan sangat rinci dan alhamdulillah diacc oleh pimpinan. Siip!
Pertanyaannya sekarang adalah...

Apakah inovasi ini memunginkan? 
Ya! Apa sih yang tidak mungkin dilakukan selama kita punya semangat.  

Apakah cukup waktu untuk melaksanakan inovasi?
Ya! Kami memulai dari jauh-jauh hari agar kami tidak terburu-buru waktu.

Apakah tim sudah dikondisikan untuk segera bergerak?
Ya! Bahkan jargon OBOR kini sudah berubah, dari "Nyalakan Semangat Perubahan!" menjadi "Taklukkan Atau Tidak Sama Sekali!"

Apakah sudah dibagi-bagi tugas per personil? 
Ya! Sudah kami bagi lengkap dengan step-step nya.

Apakah indikator keberhasilannya bisa diukur?
Ya! Hasil dari setiap inovasi akan kami ukur keberhasilannya. Metodenya kita sesuaikan.

Apakah evaluasi Before and After-nya signifikan?
Harusnya begitu memang. Itu dia yang sedang kami pikirkan. Langkah 1,2,3,4 dan 5 sudah bisa disusun di risalah GKM. Tapi kenapa kami sekarang mulai bingung yah menentukan langkah 6? Haduuhh... musti pegangan nich... eh kalau perlu pelukan... kayak Teletubbies.. hehe.

Apakah inovasi ini bisa mempertahankan lencana Platinum seperti tahun kemarin?
Ya! Harus itu... kami siap melakukan apa saja untuk memberikan hasil terbaik! Seperti filosofi OBOR, selalu menyala walaupun sederhana... selalu membara karena kami istimewa... #edisiNarsis 
Taapii... apa bisa ya? Dengan kebingungan ini ... hmmm....

Bingung? 
Iya!
Galau?
Ho oh.

Kalau lagi begini jadi kangen... 
Kangen solusi dari yang kompeten...
Kangen arahan dari yang berpengalaman...

Okelah... walaupun dia pastinya sedang sibuk banget dengan tugas dan amanahnya. 
Kami akan kejar terus sampai tetes peluh penghabisan.. OBOR gitu loh...

#Kalau niat jangan gantung,,,
#Kalau mau jangan nanggung...

Naah... lucu kan tagline-nya....








Wednesday, March 30, 2016

"Si Novik Ketemu Jodoh..."



"Ind... Saya sudah kirim via wa ya... bisa ya ikutan..." Kata Bu Ucy.
"Oh.. tentang apa ya Bund?" Jawabku sedikit bingung.
"Sinovik..." Begitu beliau mengakhiri sapaan singkat pagi itu sebelum akhirnya naik ke lantai 2 menuju ruangan MR (Management Representative).

Rabu, 10 Februari 2016.
Seperti pagi-pagi sebelumnya. Setiap karyawan pasti melewati ruang tempat kami bekerja. Ruang Apotek Puskesmas yang terletak sebelah kanan pintu utama. Kadang ada yang sekedar "Say Hello" ataupun  mampir untuk bertanya tentang obat. Bisa juga beberapa orang mampir karena mencari aku. Termasuk Bu Ucy, beliau adalah MR kami di Puskesmas. Semua program terkait mutu dan akreditasi adalah tupoksi beliau.

Sunday, February 28, 2016

“ UNTUNG NGGAK SAMPE NABRAK!”



Gugus baru sudah terbentuk. Tapi namanya apa ya?

Gugus yang baru lahir itu ibarat bayi mungil, lucu dan menggemaskan. Bayi yang mulai membuka matanya dengan perlahan untuk sebuah dunia baru.  Si bayi menangis sebagai refleks awal perubahan yang dia rasakan. Ya! Menangis... kemudian tersenyum ketika melihat orangtuanya menyapa dan memandang dengan tatapan bahagia seraya berujar, “ Nak, selamat datang, semoga kelak kau membawa kebahagiaan dan kebanggaan kepada kami”. Do’a dan harapan yang diidam-idamkan si orangtua yang melahirkannya.

"Baca ini dulu yaa... "


Wajib dibaca sebelum mengikuti cerita seru tentang " OBOR HISTORY "

Apakah ini cerita tentang cara membuat media penerangan tradisional yang terbuat dari bambu dan kain yang dibasahi minyak tanah agar bisa menyala itu ? . Bukan ! Bukan itu saudara-saudara. 

Ini cerita tentang Maha dahsyatnya arti sebuah perjuangan.
Cerita yang membuktikan bahwa keajaiban itu nyata. Bukan hanya ada di sinetron atau film belaka.

Sebagai awalan saya ingin menjelaskan sebuah kegiatan yang dinamakan Gugus Kendali Mutu atau sering disingkat GKM. Dalam istilah lainnya GKM ini sering disebut  Quality Control Circle (QCC) Small Group Activity (SGA), Quality Improvement Team (QIT) dan masih banyak lagi istilah yang lainnya.