Wednesday, June 28, 2017

Kang Giwa (24) : "Ayam Bakar Impian"



Aku ingin sekali melepaskan genggaman tangannya. Malu.
Semua mata yang melihat kami berjalan berdua dengan bergandengan tangan mulai dari halte bis kuning stasiun UI seolah memutar memori mereka akan peristiwa manis dua orang manusia.  Tak jarang kutundukkan kepalaku dan asyik menatap jalanan aspal yang sudah tak mulus lagi itu. Beberapa tambalan aspal yang rusak ditutupi kerikil dan batu-batu kecil untuk mencegah legokan tajam yang membahayakan. Sedangkan lelaki berhidung bangir di sebelahku tetap fokus memastikan posisi kami aman dari hilir mudik sepeda motor mahasiswa dan ojek pengkolan.

Jalanan yang kami lewati luasnya sekitar dua mobil Avanza bahkan lebih, banyak mahasiswa yang berjalan kaki menyusuri jalanan yang tak lepas dari debu dan asap knalpot sepeda motor itu. Di sebelah kanan-kiri jalan banyak warung yang menjajakan makanan dengan harga ramah. Maklum, area kost-kostan mahasiswa UI dan Gunadarma bercampur disini. Warteg, kedai, warung nasi, warkop dan tenda-tenda makanan berjejer rapi. Tak salah ketika aku memutuskan untuk mengambil rumah kontrakan disini. "Kober" namanya, berada di samping Jalan Margonda Raya. Entah apa arti dari nama daerah yang kutinggali saat ini, aku tak pernah penasaran. Yang penting lokasinya dekat dengan kampus dan fasilitas lengkap. Selain tak sulit mencari makanan aku juga mudah mendapatkan tempat fotokopi, warnet dan wartel. 

Genggamannya semakin kuat. Keringat yang membasahi tanganku saat inipun sama sekali tak berpengaruh. Tangannya semakin kuat mengunciku ibarat borgol besi yang dipasangkan pada tangkapan polisi. Memangnya aku ini DPO apa ya? Gumamku dalam hati. Satu hal yang tidak aku mengerti pada laki-laki yang meminjamkanku uang sepuluh ribu untuk ongkos pulang gara-gara dompetku kecopetan waktu ospek SMA dulu.

Langkahku terhenti pada satu kedai makan yang bertuliskan "Ayam Bakar Citra". Kedai ayam bakar yang pernah aku lalui saat mampir di tempat kostan teman aktivis  SALAM UI enam bulan yang lalu. Bangunan unik dengan luas sekitar 50 meter persegi, pada awalnya adalah sebuah rumah yang disulap menjadi kedai makan. Nuansa betawi yang dipadu dengan interior kontemporer khas anak muda, lampu-lampu gantung warna warni terbuat dari anyaman rotan yang dicat begitu rupa menghiasi setiap meja, membuatnya terlihat mencolok diantara warung makan yang lainnya. Ditambah cat warna hijau toska yang mendominasi dinding kedai itu membuat aku terpesona.  

"Kok berhenti, Neng? Ada apa?" Tatapan matanya mengarah padaku yang khusyuk memandangi kedai itu. "Hey, kok melamun? Lapar?" Digerakkan tangannya saat dia bertanya padaku. 

"Kang, Neng mau makan ayam bakar itu, boleh nggak?" Pintaku malu. Mataku memandang manja mata elang yang gagah itu. Aku berikan senyuman termanis dengan binar mata coklatku yang selalu membuatnya jatuh cinta. 

"Ya ampuun, mau ayam bakar aja kok pake melamun sih,Neng? Ya bolehlah... mau sekarang? Masih jam sepuluh pagi, belum saatnya makan siang atuh" Jawabannya membuatku bahagia setidaknya permintaanku dikabulkan. 

"Ih, Akang mah begitu, kan sebentar lagi juga jam makan siang, kita duluan aja duduk di sana, nanti mah penuh, Kang, banyak yang beli. Bisa-bisa kita nggak kebagian tempat. Kita ngobrol dulu lanjutin cerita yang kemarin" Tanganku menuntunnya untuk segera menyebrang ke arah kedai yang aku impikan itu. Dia pasrah dan menurutiku. 

Aroma lezatnya ayam bakar sudah bisa kucium sejak memasuki kedai yang asri dan hangat itu. Wangi kapulaga dan kayu manis begitu khas di hidungku ini. Segera aku memilih tempat duduk paling pojok yang diperuntukkan untuk dua orang. Pas! Aku dan lelaki gantengku bisa asyik makan berdua tanpa ada gangguan mata ataupun obrolan bising para pengunjung yang datang nanti. Hari ini penting sekali, ada cerita yang ingin aku sampaikan padanya. Cerita tentang pamanku yang dikira penjahat oleh Pak Darwis saat pertama kali bertemu di Malaysia dan cerita tentang telpon dari Alif yang merubah garis takdirku. Rencana ta'aruf dengan Bang Alif berganti pinangan dari lelaki lain yang tiba-tiba datang tanpa aba-aba di sebuah cafe bersama keluarga Almira dan pamanku. Lelaki yang berperan sebagai ksatria dalam cerita hidupku yang laksana telenovela atau kisah romansa zaman Majapahit. Kini, ksatria itu berada tepat di sampingku. 

"Ayo, Kang! Sebelah sini duduknya... " Aku menarik tangannya saat dia tengah serius menyusuri setiap sudut kedai ini. Seolah ingin memastikan sesuatu. 
"Akang kenapa sih? Malah lihat-lihat nggak jelas" Tanyaku kesal. 
"Enggak Neng, Akang cuma ingin memastikan kalau kedai ini sudah buka. Soalnya tulisan gantung di pintu tadi masih belum dibalik" Jawabnya pelan, setengah berbisik padaku. 

"Jadi, masih tutup ya Kang? Haduh" Aku berdiri dari tempat dudukku dan mendekati Si Akang. Mataku ikut clingak-clinguk memandangi sekeliling kedai. Iya betul juga, tidak ada orang bahkan sang pemilik kedaipun tak nampak batang hidungnya. Hanya aroma ayam bakar yang sedang diungkep bumbu yang berasal dari dalam ruangan kedai tercium semakin tajam. Sepertinya mereka masih sibuk menyiapkan  penganan yang akan dijajakan mulai jam setengah dua belas nanti. 

"Lain kali lihat dulu atuh Neng, jangan asal nyelonong... main tarik-tarik tangan Akang aja." Dia menarik tanganku menuju keluar kedai dengan sangat hati-hati. 

"Punten atuh, Kang. Saking semangatnya..." Aku menunduk malu. Pipiku mulai memerah.

Setelah berhasil keluar dari kedai itu, Si Akang tertawa lepas. Tiga kali cubitanku mendarat di pinggangnya tidak mampu menghentikan tawanya itu. Ih, terlalu deh!

"Akaangg... !! Udah atuh, jangan ketawa terus! Kucubit lengan kekarnya dengan sekuat tenaga. 
"Iya..iya.. maaf, Akang cuma geli melihat muka Neng tadi. Ini impian Neng yang keberapa lagi sih?Mau makan ayam bakar aja sampai segitunya..." Sambil berjalan pelan menuju rumah kontrakan kami, Si Akang masih melanjutkan pertanyaannya. Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya. Tapi tetap tidak berhasil.  

"Udah, Kang, jangan dibahas!" Aku cemberut. 
"Kalau cemberut, Neng malah tambah menggemaskan deh! Nanti kalau Akang bilang nggak usah kuliah, bagaimana? Bahaya kan?" Candaan genit mulai keluar dari mulutnya. 

Aku segera tersenyum walau agak terpaksa. Bagaimana tidak, kuliahku jam satu siang nanti dosennya killer. Kalau tidak hadir untuk yang kedua kalinya, aku bisa diskorsing tidak boleh ikut ujian. Si Akang tertawa lagi. Bukannya empati! Huft!

"Akaaang... jam satu kuliah Pak Warto, Kimia Organik 3, Neng nggak mau bolos lagi!" 
"Lha, sekarang pilih mana? Patuh sama suami atau sama dosen? Salah siapa nikah sambil kuliah!" Dia berusaha menggoyahkan keyakinanku, masih dengan tawa renyahnya. Kutatap wajahnya yang tampak semakin manis dengan deretan giginya yang putih dan rapi. 
"Akaang....!" Aku cubit lagi tangannya sekuat tenagaku. Kali ini berhasil membuatnya meringis dan melepaskan genggamannya. Sepertinya kuku tanganku sedikit melukai kulit lengannya. Perih!
Aku berlari menuju rumah kontrakan kecil kami sedangkan lelaki tadi tetap berjalan santai sambil sesekali memandangi lengannya yang memerah. Sesampainya di rumah, aku kunci dari dalam. 

"Neng..! Buka pintunya..." Pintanya setelah sampai di depan rumah kontrakan kami yang terkunci.
"Akang boleh masuk tapi dengan satu syarat, Neng boleh kuliah dan makan ayam bakar di kedai Citra!"
"Lah.. itu mah dua syarat bukan satu" Jawabnya singkat. Matanya mengintipku dari jendela kaca nako yang masih terbuka. 
"Yaudah kalau gitu, Neng pilih kuliah aja Kang, ayam bakarnya nggak usah!" 
"Dosa lho, suaminya nggak boleh masuk. Malu dilihat tetangga..." Si Akang mulai tidak nyaman. Suaranya mulai pelan tapi penuh penekanan. Bukan saat yang tepat untuk bercanda. Pangeran itu sudah teramat lelah sepertinya. 

Dengan keputusan yang belum disepakati, akhirnya aku membuka pintu. 
Tak lama Si Akang masuk setelah melepas kedua sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu plastik berwarna abu-abu yang aku letakkan di depan teras. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku memberi kode pada suamiku itu untuk menjawab telpon terlebih dahulu. Anggukannya menandakan dia setuju.

"Apa? Diganti besok? Jadi nanti nggak ada kuliah?" Lucy menelponku setelah tahu jadwal kuliah Pak Warto diganti besok karena beliau harus menghadiri rapat mendadak di rektorat terkait rencana perubahan jurusan Farmasi menjadi Fakultas Farmasi, terpisah dari Fakultas MIPA. 

"Akang...! Neng pilih makan ayam bakar aja deh! Jam setengah dua belas kita kesana lagi ya Kang!" 
Aku berteriak dari ruang tamu yang tak jauh dari kamar dan dapur kami. Maklum, kontrakan tiga petak ukuran 30 meter persegi, membuat komunikasi dan mobilisasi kami menjadi lebih cepat. Saking sempitnya. 

Tak ada jawaban. 
Kutengok ruang sebelah... dan...oalaahh...lelaki ganteng tadi ternyata sudah terlelap. Kamar kecil dengan hembusan kipas angin yang diarahkan ke dinding kamar itu membuatnya nyaman, senyaman AC merek No.1 di Indonesia. Aku tersenyum. Suamiku sangat membumi.

"Tuuh...kaaaan.... begini deh kalau habis lembur di kantor. Katanya kangen..." Bisikku dalam hati. 

Kupandangi wajahnya dengan lembut. Aku semakin jatuh cinta. 
Dia yang sudah menepati janjinya. 
Dia yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya saat kami berjalan berdua. 
Dia yang selalu sabar mendengarkan cerita demi cerita, impian demi impianku, satu per satu.

Kubiarkan dia terlelap. Segera aku berjalan menuju ruang depan dan mendekati rak buku yang terbuat dari anyaman bambu berwarna kuning muda dengan empat tingkat seharga tiga puluh lima ribu rupiah itu. Murah sekali ya. Aku membelinya dari abang-abang yang lewat di depan rumah kami seminggu yang lalu.

Kubuka buku harian berwarna coklat yang sudah sedikit lusuh. Buku yang menemaniku dari semester satu hingga saat ini menginjak semester enam. Disana aku tuliskan semua keinginan dan harapanku. Apapun itu. Kusisir perlahan halaman demi halaman. Sampailah pada catatan yang aku cari. Dengan penuh syukur tak terperi  dan setengah tidak percaya aku memberi ceklist dengan ballpoint berwarna merah pada :

Impian No. 27 : "Makan ayam bakar Citra berdua dengan Kang Giwa"

Jangan main-main dengan mimpi ya, nanti kesampaian!











Friday, April 7, 2017

Kang Giwa (23) : "Andromeda"



Hari ini perkuliahan akan dimulai jam 10 pagi di ruang kuliah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Dosen yang satu ini memang tidak biasa. Rambutnya yang sudah mulai beruban dan sedikit gondrong diikatnya begitu saja dengan karet gelang. Kumisnya yang lebat hampir menutupi setengah bagian bibirnya yang menghitam karena rokok. Baju yang dikenakannya tidak pernah berwarna cerah. Kemeja krem, hitam, abu-abu lusuh melekat pada kulit tubuhnya yang mulai keriput. Bintik-bintik hitam diantara warna kulitnya yang coklat tua dan sedikit kering, sangat bisa ditebak berapa usia dia sekarang. Sepatu kulitnya entah sudah berapa lama tidak diganti, sangat lusuh. Aku kadang berfikir, seperti apa sih kehidupan dia? Selusuh penampilannya jugakah?  

Ah!
Bisa-bisanya mata kuliah wajib tentang sosiologi ini harus kuikuti di fakultas orang. Bisa-bisanya dia mengatur jadwal kuliah dengan seenaknya. Sekarang isunya perkuliahan ini adalah kelas besar. Dosen nyentrik itu mengumpulkan semua mahasiswa yang diajarnya dari semua fakultas! Mungkin fikirnya lebih efisien, sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Tapi ini jelas-jelas menganggu sistem. Bagaimana pertanggungjawaban dia? Setidaknya pada jadwal kuliah elektro yang harus mengalah demi satu mata kuliah yang hanya 2 SKS ini. Na'asnya lagi, nilai "D" yang dia sematkan pada lembar IPK dua semester kemarin memaksaku harus rela bertemu dia lagi. Alamak! Kali ini aku bertekad untuk mengalah saja, yang penting aku lulus.

Aku bersiap turun dari bis kuning UI di halte pemberhentian FISIP. Ramai mahasiswa yang mulai beranjak dari tempat duduknya untuk segera menaiki bis yang sudah mereka tunggu-tunggu. Sudah seperti kopaja saja bis kuning saat ini. Berebutan!

Sepanjang perjalanan menuju ruang kuliah F4 aku melayangkan pandanganku ke berbagai arah. Ketika memasuki gedung utama, aku ditakjubkan oleh sebuah karya seni pahat akar pohon yang berdiri megah. Berwarna coklat tua dengan kilapan pliturnya yang apik.  Dalam pahatan itu terlihat bentuk wajah manusia dari berbagai usia dan berbagai ekspresi. Sambung menyambung dalam suatu kesatuan yang indah. Kulihat sebuah tulisan yang terpahat di atas lempeng perak "Kenang-kenangan dari Pemerintah Kotamadya Sukabumi, Jawa Barat". Oalah, ini hasil orang Sukabumi ternyata. Kuperhatikan kembali akar pohon besar itu. Sepertinya menggambarkan sebuah filosofi. Tentang manusia. Tentang keragaman yang dimilikinya. Ya, lumayan 'nyambung' dengan sosiologi.

Aku berjalan terus mengikuti arah yang ditunjukkan peta lokasi yang berada di sebelah hiasan akar pohon tadi. Oh, itu dia, ketemu!
Jeep di tanganku menunjukkan pukul 10 pagi, wah ngepas banget. Aku sedikit berlari memasuki ruangan yang sudah dipenuhi mahasiswa dari berbagai fakultas itu. Wow! Penuh sekali! Ramai dan riuh suara mereka. Aku mencari tempat duduk kosong paling belakang. Bahaya kalau wajahku dikenali musuh bebuyutanku itu. Bisa gawat!

Semua mulai menghening seiring langkah kaki seorang lelaki tua berambut gondrong itu memasuki ruangan. Tuh kan.... tak tahu malu, dia berjalan santai dengan sepuntung rokok yang masih mengepul di mulutnya. Dosen macam apa ini? Dia menuju meja di depan kelas. Masih dengan kepulan rokoknya dan sesaat setelah itu dia tertawa melihat ekspresi mahasiswa yang baru kali ini mengikuti kelasnya. Kecuali aku. Ah, sudah bisa aku tebak tingkah anehnya. Gayanya sama dan bisa kupastikan dua jam bersamanya bagaikan di dalam penjara tanpa cahaya. Gelap gulita!

Sebentar lagi dia pasti akan mematikan rokoknya di asbak tua yang terletak di atas meja. Yup! Dan jurus pertama dilancarkan....
"Saya akan memulai perkuliahan kita. Saya harap kalian bisa mendapatkan jawaban dari kebodohan kalian selama ini"
Masih sama! Kalimat pembuka yang menyiratkan niat jahatnya.
"Bodohnya kalian yang masih mau diperbudak dengan kepercayaan tak berguna, tentang zat kasat mata yang kalian agung-agungkan"
Aku tutup kupingku dengan earphone sekarang. Percuma saja, aku sudah hafal benar dengan kalimat demi kalimat yang akan dia lontarkan.
"Dan kalian... wanita-wanita bodoh dengan pakaian Arab nanggung. Kenapa kalian tidak berpakaian yang sesuai dengan jiwa kalian sebagai penggoda dan pengharap puja? Bodoh!"

"Itulah diantara kebodohan kalian yang akan kita bahas dua jam kedepan..." Dia berkata angkuh.

Aku tetap pada lantunan ayat-ayat suci dari MP4 yang kupasang diam-diam. Setidaknya dengan duduk di belakang, dia tidak akan melihatku.

"Hey! Beraninya kamu!" Lelaki tua itu membentak ke arah seorang wanita yang walk out, berjalan meninggalkan ruangan.
"Hey! Tidak sopan, kamu!" Suaranya parau tuanya dipaksa menggelegar.

"Maaf pak, saya salah kelas! Di sini kelas mahasiswa bodoh yang mau dibodohi oleh orang yang mengaku dosen tapi tidak pernah mau mengakui bahwa dia lebih bodoh dari kebodohan itu sendiri."

Suasana kelas seketika hening. Semua mata menuju ke satu arah yang sama.

Mahasiswi mungil berjilbab biru dengan tas gembong hitam penuh dengan buku.
Tangan kanannya menenteng sebuah kardus indomie yang diikat dengan tali rafia.

Aku telah mengenalmu... hari itu kamu menjadi "Bintang" di kelas kita.
Tapi bagiku, kamu bukan hanya sebuah bintang.... kamu adalah "Andromeda" yang menerangi seluruh ruangan dengan cahaya gemilang.

Lelaki tua itupun kini tak berkutik!
Aku malu menjadi prajurit yang kalah perang dua tahun yang lalu. Melawan lelaki tua dengan argumen tiada akhir.


(Itulah lamunan Alif saat menunggu ojek di halte Mesjid UI. Kenangan pertama kali dia mengenal seorang mahasiswi penjual pisang coklat yang telah mencuri perhatian semua orang...)







Saturday, April 1, 2017

Kang Giwa (22) : "Empat Surat"



Akang....
Aku tidak tahu caranya menenangkan degup jantung yang tak beraturan ini. Menerima surat darimu yang saat ini aku pegang. Akang datang mengejutkan, seperti seorang pangeran ganteng dalam kisah sepatu kaca.  Aku malu Kang, malu sekali. Aku lusuh banget pastinya. Beda sekali dengan penampilan Akang yang sekarang. Tambah ganteng... banget!

Astaghfirullah... kok aku malah melamunkan Akang ya?
Aku tersenyum bahagia saat ini, Kang. Rasanya bibir ini tidak bisa melepaskan kuatnya luapan emosi tak terkendali dari hatiku. Cinta.

Aku buka satu surat, gemetar tanganku membuka lipatan kertas putih dari amplop pertama dari Akang,

Assalamu'alaikum Indri,
Apa kabar? Bagaimana kuliahmu, lancar?
Akang disini sudah mulai mengerjakan proyek penelitian, do'akan lancar juga ya.

Maaf Akang tidak bisa ngobrol banyak waktu kita bertemu di Sukabumi saat hari wafatnya Mamat, adik Akang. Kondisinya riweuh ya, tidak kondusif. Padahal Akang ingin mendengar ceritamu, Ind. Akang khawatir kamu mengalami kesulitan di perkuliahanmu. Sayang sekali, kantor Akang hanya memberikan izin satu hari saja. Besoknya Akang harus cepat-cepat kembali ke Malaysia.

Ohya, sekarang nomor hape Akang ganti ya, waktu itu kan kecopetan. Indri bisa sms Akang atau menelpon juga tidak apa-apa. Karena kalau surat kuatir lama sampainya. Sekarang nomor hape Akang di : 081322021978. Tapi kalau Akang menelpon kamu juga nggak apa-apa. Berapa nomor telpon kost-kostan kamu Ind? Sudah sering kita bertukar surat di asrama UI, Akang sampai lupa nanya.  Nggak pernah terfikir kalau kita akan terpisah lama seperti ini.

Akang akan berusaha menyelesaikan proyek penelitian ini agar bisa sesegera mungkin kembali ke Jakarta. InsyaAlloh 6 bulan target selesai.

Di sini nyaman sekali kantornya, fasilitas lengkap dan Akang tidak perlu kuatir soal biaya penelitian. Semua ditanggung Petronas. Selain itu Akang juga mendapat honor. Alhamdulillah, lumayan buat tambah-tambah tabungan. Persiapan rencana kita nanti.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita.

Tolong dibalas secepatnya ya, Ind....
Wassalam

Aku tersenyum lagi. Mataku berlinang permata.
Aku buka surat kedua,

Assalamu'alaikum Indri,
Apa kabar? Baik-baik saja kan? Semoga ya.
Hmm... sudah dua bulan Akang tunggu balasan suratmu tapi belum ada juga. Kenapa ya?
Sibuk?

Atau suratnya tidak sampai ke kost-anmu ya?
Tapi alamatnya lengkap kok. Akang bahkan tulis di keterangan di alamat tujuan " Lokasi di belakang Asrama Universitas Indonesia Depok" . Setidaknya surat itu nyasar-nyasar ke Asrama UI. Disitu kan banyak adik kelas yang kenal Akang. Siapa tahu disampaikan ke kamu, Ind. Ya, walaupun resikonya akan menjadi gosip baru tuh di Asrama. Tapi itu kemungkinan terakhir, jika kurirnya malas mencari alamat.

Indri sedang sibuk apa di kuliah? Praktikum ya? Atau meracik formula obat?
Coba diracik atuh obat biar Akang bisa menyelesaikan proyek ini lebih cepat. Kalau bisa besok langsung selesai. Bisa nggak?

Biar segera ada yang membuatkan teh manis hangat pagi-pagi buat Akang.

Eh, sudah ya, maaf Akang bercanda, tapi kalau iya pun nggak apa-apa juga sih. Aamiin.  

Jangan lupa dibalas,
Kuatir surat kemarin tidak sampai, Akang minta ya nomor telpon Pondok Puteri, kost-anmu itu. Dan ini nomor hape Akang, dicatat ya, 081322021978.

Wassalam

Aku tertawa kecil. Ah, Akang bisa aja.
Kubuka surat ketiga,

Assalamu'alaikum Indri,
Apa kabar? Akang khawatir sebenarnya, tapi kamu baik-baik saja kan?
Empat bulan sudah Akang melalui hari-hari di sini. Lumayan berat sih, tapi so far bisa dijalani. Akang punya bos orang Indonesia ternyata. Pak Darwis namanya. Serem banget orangnya. Standar stereotype bos-bos lah ya. Memang biasanya begitu. Tapi orangnya baik. Suka bercerita tentang keluarganya terutama anak gadisnya yang bernama Almira.

Ind, lucu deh, Akang disini dipanggil "Keanu". Sedikit nggak nyaman. Tapi itu menunjukkan mereka sangat menerima Akang dengan baik. Kami sudah sangat dekat dan kompak. Ohya, jangan kuatir ya, Akang masih menjaga jarak kok kalau dengan lawan jenis. Jangan cemburu ya... Hmm... nggak apa-apa juga sih cemburu itu kan tandanya..... (Ups, punten Akang bercanda lagi).

Indri nggak pindah kuliah kan?
Apa tawaran teh Annisa waktu itu akhirnya kamu terima? Kedokteran UNAND? Kamu jadi ikut UMPTN lagikah?

Semakin bingung Akang sekarang. Bagaimana cara menemukan kamu. Akang tidak punya nomor hape Teh Annisa pula. Semenjak hape ganti baru, semua nomor hilang. Bahkan Akang tidak bisa mengontak satupun teman Akang di kampus. Akang cuma berharap dua bulan lagi penelitian ini bisa segera selesai. Sudah kangen Indonesia.

Tapi kembali lagi, seandainya surat-surat Akang kemarin tidak sampai ke tanganmu. Tolong balas surat kali ini dan jangan lupa kasih nomor telpon yang bisa Akang hubungi.
Catat nomor hape Akang ya : 081322021978.

Wassalam

Akang tidak menyerah ya. Terimakasih Kang, ternyata Akang selama ini masih mengkhawatirkan aku. Kuusap mataku yang mulai basah. Kubuka surat keempat, masihkah Akang...

Surat keempat

Assalamu'alaikum Indri,
Apa kabar, Ind? Kamu baik-baik saja kan? Akang tambah khawatir. Tapi kamu baik-baik saja kan? 
Kuliah, masih?
Ada masalah? SPP belum naik lagi kan?
Maaf Akang kok nanya begitu ya, bukan bermaksud apa-apa sih, cuma kuatir kamu kesulitan di sana. Mainlah kamu ke rumah Akang. Sudah Akang titip pesan ke Ambu dan Abah seandainya kamu datang kesana agar memberikan nomor hape Akang. Tidak ada yang bisa mencari kamu, Ind. Abah dan Ambu sudah sepuh. Masa iya Akang merepotkan mereka. Kang Ridwan apalagi, sibuk menjadi camat di tempat baru. Di daerah Serang, Banten.

Ini memang salah Akang. Kenapa Akang jarang pulang ke rumah waktu dulu. Jarang berkomunikasi dengan Abah dan Ambu. Mereka bahkan tidak tahu siapa sahabat-sahabat Akang. Tidak ada satupun penyambung silaturohim. Akang sadar, betapa pentingnya kita saling memberikan kabar dan informasi kepada orangtua kita siapa yang bisa mereka hubungi jika terjadi sesuatu pada kita. Astagfirullah... Akang terlalu terlena dengan kesibukan sampai lupa pada hal-hal kecil tapi krusial seperti itu.

Sudah buntu akal Akang sekarang. Harus dengan cara apa lagi?
Sudah lewat dari janji Akang ke kamu ya, Ind.... delapan bulan masih di Malaysia. Ada banyak yang tak terduga di sini. Proyek Akang, tawaran S2, semua menjadi berkembang... akhirnya lewat dari 6 bulan waktu tunggu yang Akang berikan kepadamu.

Maafkan Akang...

Ind, ada satu hal yang Akang takutkan. Kamu masih sendiri kan?
Ah, kok Akang berfikir terlalu jauh ya, cuma takut aja kamu tiba-tiba ada yang meminang, bagaimana? Atau... kamu sudah menikah sekarang? Astaghfirullaah... Semoga tidak!
Atau kamu malah sudah tidak bisa kuliah lagi? Duh, jangan sampai terjadi!

Ind, Akang masih berniat untuk segera melamarmu. Selepas wisuda nanti, secepatnya Akang melamarmu. Atau saat Akang pulang ke Depok, seandainya kamu meminta, Akang bersedia untuk langsung menikahimu. Setidaknya kita akad nikah dulu, walimah kemudian. Banyak yang begitu, bukan? Cuma kita harus memahamkan ini benar-benar kepada keluarga kita. Menikah dini masih langka dalam budaya kedaerahan kita. 

Akang sudah tidak tahu harus bagaimana caranya lagi. Akang hanya bisa berdo'a dan selalu menitipkan kamu kepada Sang Pemilik Hati...

Wassalam,

Muhammad Giwana  (081322021978)

Akang?
Kupeluk surat terakhir darimu itu. Pecah sudah tangisku saat ini. Maafkan aku Kang... Aku yang salah. Kenapa aku tidak berusaha segigih Akang?

Segera kuambil handphoneku... tapi yaaah..... mati!




 










Kang Giwa (21) : "Ksatria baru"



Giwa meninggalkan Pondok Puteri dengan perasaan bahagia.
Suzuki Satria merah itu melaju kencang berburu dengan waktu yang saat itu hampir Isya. Giwa teringat Alif yang sedang menunggunya dan Giwa berharap bisa sholat berjama'ah Isya di masjid UI. Giwa sudah rindu sekali dengan hembusan angin semilir dari pinggir danau yang memasuki masjid tanpa dinding itu, perlahan lembut menyapu pundaknya, menggoyangkan tetesan air wudhu yang berada di ujung rambutnya yang lebat. Menetes tepat di ujung hidung bangirnya. Kali ini akan menjadi Isya terindah seumur hidup Giwa. Temaram lampu masjid UI akan menambah syahdu kesyukurannya.

"Assalamu'alaikum, Bang!" Giwa segera menyerahkan kunci motor Alif.
"Maaf lama, Bang!" Giwa memandang Alif dengan sumringah, berharap Alif menanyakan kisah pemburuannya. Alif masih asyik dengan buku kecil yang dibacanya sambil menunggu Isya berkumandang. Buku itu yang menguatkan keputusan yang harus diambilnya sekarang juga.

"Santai aja Wa, nggak apa-apa... yang penting udah clear kan urusan Si Candy-Candy-mu itu?" Jawab Alif.
"Makasih ya Bang, tanpa pertolongan dan saran dari Abang, aku mungkin akan kehilangan Candy untuk selamanya" Giwa menatap Alif dengan mata berbinar.

Alif membalas senyum Giwa dengan ketulusan yang masih tersisa di hatinya. Keduanya berpelukan. 
"Semua atas izin Allah, Wa...nah, adzan tuh, yuk!" Alif mengajak Giwa menuju ke tempat wudhu.

Selesai shalat Isya, Giwa dikagetkan oleh sebuah panggilan dari handphone yang berada di saku celananya. Giwa segera mundur dari shaf dan mengangkat panggilan yang masuk, berharap dari Indri. Siapa tahu dia sudah membaca suratnya.

"Assalamu'alaikum, Giwa! Tolong ya, jam 8 malam saya tunggu. Penting!"
"Saya usahakan ya Pak"

Giwa menghampiri Alif yang masih melafazkan dzikir seusai shalat Isya tadi.
"Bang, maaf, boleh aku pamit sekarang?"
"Lho, kok buru-buru?"
"Iya, Bang, bos-ku sedang di Jakarta sekarang. Tadi telpon nyuruh aku datang ke rumahnya, penting katanya."
"Ohya sampai lupa, Abang kan belum cerita tentang ta'aruf besok ya? Semoga besok ta'arufnya sukses ya Bang! Kalau sudah yakin langsung saja disegerakan!" Giwa menepuk pundak Alif seolah ingin meneguhkan pendirian Alif yang sudah tiga kali gagal ta'aruf itu.

Perih. Andai Giwa tahu apa yang sudah terjadi. Bagaimana besok?

"Kamu mau naik apa kesana, Wa?"
"Naik ojek ajalah Bang, macet kalau naik angkot"
"Pakelah motorku,Wa!"
"Nggak usah, Bang! Abang, pulangnya nanti gimana?"
"Abang mau tetap disini. Tadi sebelum kamu datang, ada anak BEM yang baru, mereka mau konsultasi soal kegiatan tahunan katanya. Yaudah bagus kan? Lagian juga motor nganggur buat apa."
"Beneran nih Bang?"
"Iyalah Wa, asal tau aja ya, pulang bensin full ya!" Tawa Alif membuat suasana menjadi cair.
"Siiplah Bang, sekalian nanti aku kasih voucher gratis  ke Petronas, mau?"
"Catet yah, janji lho!"
"Iya Bang, pamit yah, Assalamu'alaikum!" Giwa meninggalkan Alif menuju Cinere. Rumah Pak Darwis dan tentunya rumah dimana Almira berada.

Alif terdiam.
Tidak ada pilihan lain. Kisah cinta segitiga ini harus diluruskan. Bukan urusan sepele.
Apa yang akan dikatakan oleh guru ngajinya nanti jika tiba-tiba dia membatalkan ta'arufnya kali ini. Belum bertemu sudah membatalkan. Apalah nanti persepsi Sang Murabbi?

"Mungkin aku akan dicap sebagai pemuda tidak tahu diri. Menolak wanita berkali-kali. Tapi tidak mungkin juga aku membiarkan misteri ini terungkap. Malu lah, nanti disangka apa aku ini? Jatuh cinta pada pinangan orang. Aku juga tidak mungkin membuat Indri menjadi bingung pada keputusannya. Wanita tidak bisa diandalkan kalau masalah perasaan. Bisa apa dia? Menolak ta'aruf besok? Tidak mungkin!"

Diambilnya handphone dari saku baju kemeja kotak-kotak biru yang dikenakannya itu.

"Maaf, Bang, sekali lagi saya minta maaf" Alif memberanikan diri menelpon Sang Murrabbi.

"Lif, sepertinya kamu perlu dirukyah!" Jawab guru ngajinya singkat.

Mungkin Sang Murrobbi mengira ada jin yang bermaqom kuat dalam diri Alif, menghalangi setiap kali proses menuju pernikahan muridnya itu. Ini bahkan sudah yang keempat kalinya. Atau mungkin itu hanya sindiran keras kepada Alif atas kepengecutannya selama ini. Entahlah.

"Siap, Bang!"

Alif merasa lega. Beban itu sudah lepas dari pikirannya.

"Sesama mukmin adalah bersaudara, maka baginya tidak halal menawar barang yang telah ditawar (dibeli) oleh saudaranya dan tidak halal meminang perempuan yang telah dipinang oleh saudaranya, kecuali bila saudaranya telah membatalkan pinangan.” (Al Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dimasukkannya buku kecil kumpulan hadits itu kedalam tas gembong hitamnya.
Alif duduk di halte Mesjid UI.
Menunggu ojek lewat. Menuju rumah Sang Murrabbi.
















Thursday, March 30, 2017

Kang Giwa (20) : "Tamu yang diundang"



Sore itu Almira uring-uringan. Sudah sepuluh kali menelpon Indri tapi jawabannya hanya:
"Anda terhubung dengan kotak suara, silahkan meninggalkan pesan anda..."

"Begini nih kebiasaan buruk Kak Indri! Selalu lupa ngecek baterai hp. Saat genting begini lagi... " Gerutu Almira dalam hati. Boneka beruang berwarna pink yang ada di atas kasur empuk miliknya kini dipeluknya erat-erat. Almira menyerah. Pengumuman UMPTN yang ditunggu-tunggunya sedari pagi tak kunjung tiba. Tubuhnya yang semampai dihempaskan pasrah, kedua mata belonya dipejamkan perlahan....dipejam....dibuka lagi... dipejam...dibuka lagi... sampai matanya dikejutkan dengan sebuah angka yang tergantung di dinding kamarnya,

"Oh My God!!! Sudah jam 6 sore! Belum sholat Ashaaar!!!"

Seketika Almira loncat dari tempat tidur dan bingung harus berbuat apa. Diingat-ingat kembali pelajaran sholat yang diajarkan Indri. Dengan secepat kilat dia mengambil wudhu dan langsung melakukan sholat Ashar dengan hati cemas.

"Allaahu Akbar... Allaaahu Akbar..."
Adzan maghrib.

"Nyaris!" Adzan maghrib yang berkumandang tepat setelah salam pada rakaat terakhir. Almira tersenyum.

Selepas shalat maghrib, Almira memohon ampun kepada Sang Pemilik Semesta, atas kelalaiannya ini. Hanya urusan dunia, ternyata bisa melupakan hal yang paling penting dalam ibadah seorang muslim, sholat. Apakah kelalaian inilah yang membuat kesulitan yang sekarang dialaminya? Siapa tahu iya. "Duh, maafkan Mira ya, Ya Allah.." jeritnya dalam hati.

Setelah membaca satu halaman Alqur'an, Almira merasakan sesuatu yang berbeda. Kenapa ada perasaan yang begitu hangat dan dekat. Seolah ada yang tengah melihatnya. Memandangnya dengan tersenyum.... "Kak Indri...". Menetes airmata Almira. Siapa yang menyangka dia sekarang sudah bisa membaca dari kanan ke kiri dengan lancar, rentetan huruf hijaiyah itu seolah meloncat-loncat di matanya dan tiap kali dia membacanya. Huruf-huruf tersebut kembali tenang setelah Almira berhasil melaluinya. Aih, membaca Alqur'an itu lucu juga ya.... "mengasyikan ternyata!"

Kini dipeluknya buku suci itu dengan mesra. Rasa penasaran tentang pengumuman UMPTN sudah tidak begitu dia hiraukan. Toh, nanti juga tahu. Entah dari key, Ayu atau mungkin Kak Indri. Begitu pikirnya.

"Neng...Neng... ada tamu!" Ketukan pintu Bik Win mengagetkan Almira.

"Siapa, Bik? Si Ayu bukan?" Teriak Almira.

"Bibik nggak kenal, Neng, sepertinya baru melihat deh..."

"Papa dan Mama belum pulang ya,Bik?" Tanya Almira sambil membuka pintu kamarnya.

"Belum, tapi sebentar lagi sepertinya. Kata Tuan eh...kata Bapak mereka pulangnya paling telat jam 7 malam...gitu, soalnya sudah ada janji mau ketemu orang..."

Bik Win masih kagok memanggil pak Darwis dengan sebutan "Bapak" . Peraturan baru di rumah itu. Tidak ada lagi kosakata "Tuan" dan "Nyonya" lagi. Terlalu angkuh dan membuat kasta.

"Ya iyalah Bik,  ketemu orang, masa ketemu setan.. Hiyyy..!!! Almira nakal. Dia menutup wajahnya dengan mukena yang masih dikenakannya. Sontak Si Bibik menjerit. 

"Hiyyy...copot..copot...copot!!! Neng jangan nakut-nakutin gitu dong ah, Bibik kan jadi takut"

" Hehe...maaf, maaf, eh, apanya yang copot,Bik? Sini Al pasangin lagi!" Goda Almira dengan tawa renyahnya.

Jangan disuruh masuk dulu ya Bik! Biar Al lihat dulu orangnya..."

"Iya Neng... semoga saja itu bukan setan ya Neng... masa ada setan kok ganteng banget gitu... "

                                                                      *******

Almira dan Si Bibik berjalan dengan perlahan.... sambil mengendap-endap... pandangan mata waspada... tangan keduanya memegang wajan anti lengket....

Haha! Tetap saja ya.... Almira...Almira...















Sunday, August 28, 2016

Kang Giwa (18) : "Inilah Candy..."



SUATU MAGHRIB DI MESJID UI

Rapat kepanitiaan tim DANUS (Dana dan Usaha) untuk seminar yang mengusung tema "Pernikahan Dini" yang sedianya akan diadakan pasca wisuda kelulusan mahasiswa UI tahun 2002 itu berlangsung seru. Bagaimana tidak? Acara sudah mendekati hari H.

"Bagaimana dengan perolehan dana sementara kita?" Tanya Bang Saiful kepada anggota timnya yang berjumlah 5 orang termasuk salah satunya Indri. 
"Dana sementara masih belum mencapai target, Bang. Dari progress proposal baru 30%. Tapi proposal sih sudah disebar semua, tinggal nunggu jawaban aja. Sementara menunggu, kita juga tetap aktif mencari pemasukan dana harian dari berjualan, Bang. Tim sudah saya bagi-bagi, ada yang berjualan jilbab, kaos, buku, pin atau bros sampai makanan juga. Pokoknya semua dikerahkan, Bang! Hasilnya lumayan banget, 20% dana sudah tertutup dari ini. Saya sih optimis Bang dengan total 50% dana yang terkumpul ini selebihnya kita estimasi dari ticketing, bisa tembus!" Andi, mahasiswa fakultas ekonomi jurusan akuntansi itu menjelaskan kondisi dana yang sudah berhasil dikumpulkan.

"Alhamdulillaah... kalian memang tim yang kompak dan hebat! Syukron jazakumullaah... terimakasih, semoga Alloh membalas peluh keringat perjuangan kita semua dengan rezeki yang tak terhingga." Kata Bang Syaiful bersemangat dan serentak diamini oleh semua peserta rapat.

Indri hanya menyimak dan tertunduk lemah. Diliriknya kardus bekas mie instan yang terletak tepat di sebelah kanan tempat dia duduk lesehan. Masih tersisa 20 lagi... 
Tadi di kampus cukup padat agenda praktikumnya, sehingga dia tidak bisa menjual habis pisang coklat yang selama 3 bulan ini menjadi "mata pencaharian" untuk dana seminar yang diadakan oleh Rohis SALAM UI itu. Setiap subuh sebelum berangkat kuliah, Indri harus mengambil pisang coklat yang familiar  disingkat piscok itu di rumah Ibu Sandon di stasiun Pondok Cina (Pocin). Setiap harinya sebanyak 100 buah piscok harus dia jual dengan berbagai cara. Beruntung kalau perkuliahan di kelas besar yang dihadiri semua jurusan di FMIPA, piscoknya bisa langsung habis terjual dalam waktu singkat. Tapi kalau tidak ada kelas bersama, terkadang piscok yang tersisa ini dibawanya ke Pondok Puteri dan dijual kepada penghuni kost-kost-an dengan harga miring. Tak apalah... yang penting masih ada laba yang bisa disetornya ke bendahara.

Seperti hari itu. Ada 20 potong piscok yang harus dibawanya pulang ke rumah kost lagi. Kadang Indri berfikir juga, tentang penghuni kost yang menjadi bulan-bulanan piscoknya.  Selintas terbayang ekspresi lucu dari Lucy setiap kali Indri pulang dengan barang dagangannya yang belum laku,
"Aduuh, Ind... masa kita makan piscok lagi, piscok lagi... ganti yang lain dong.. tahu isi atau apa gitu" Kalau ingat itu, Indri tersenyum geli.

"Hey! Senyam-senyum sendiri! Ngelamunin apa?" Tegur Mba Amel mengagetkan Indri.
"Oh, enggak Mba. Nggak apa-apa kok..." Indri tersipu.
"Jangan-jangan kamu malah ngelamunin tema seminar kita kali ini ya?" lanjut Mba Amel.
"Bukan, Mba. Bukan itu, beneran dech!" Jawab Indri yang langsung menghentikan lamunannya tadi.
"Yaudah kalau gitu fokus lagi ke rapat ya, sambil kita cari cara lain untuk menggenjot perolehan dana kita"
"Baik, Mba" Jawab Indri dengan wajah yang kembali serius.

Perkuliahan yang padat, praktikum, tugas dan presentasi kelompok sudahlah cukup membuat Indri kelimpungan. Ditambah dengan tugas tambahan mencari dana untuk seminar. Giliran jalanin proposal pasti yang senior-senior, tapi kalau urusan repot pasti yang junior deh. Hukum alam. Pasti mereka juga dulu mengalami ini. Gantian. Regenerasi nasib.

Lelah? Pasti!
Lelah fisik dan lelah batin. Apalagi tema seminar kali ini membuat Indri baper alias "terbawa perasaan". Sebuah pernikahan dini yang akan dibawakan oleh Ustadz Fauzil Adhim, pengarang buku "Indahnya Pernikahan Dini" yang laris manis di pasaran bak kacang goreng.

Bukan hanya lelah. Tapi malu juga. Kadang, teman-teman kuliah memandang kasihan dengan Indri yang harus menenteng kardus piscok setiap hari dari kelas yang satu ke kelas yang lain. Sendirian. Mungkin mereka membeli piscok dengan alasan itu juga. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah tugas negara. Mana ada sih yang mau jadi panitia dana? Kalau bisa memilih, pasti Indri akan lebih memilih menjadi panitia acara atau humas. Tapi nasib, kepanitiaan sudah ditentukan oleh para senior. Sudah tidak bisa protes. Padahal dengan jurusan Farmasi yang dijalani Indri saat itu sangatlah kurang pas jika diberikan tugas ini. Berbeda dengan teman-teman yang dari jurusan sosial, mungkin akan lebih leluasa.

"Oke ya Ind, nanti makanan yang kamu jual ditambah tahu isi ya, ibunya Rara pinter bikin tahu isi, jadi nanti pagi-pagi kalian janjian aja di halte Pocin. Lumayan nanti akan banyak peminat nih" Mba Amel memberi mandat baru.

Indri tersenyum lagi.
"Hey! Ind, kamu kok masam-mesem aja dari tadi! Kenapa? Kamu meledek saya, ya?" Mba Amel mulai tidak nyaman dengan sikap Indri.
"Astaghfirullaah. Maaf Mba Amel, bukan meledek. Saya cuma teringat temen kost-an saya yang request tahu isi. Jadi seperti jodoh gitu mba. Impian dia tentang tahu isi terkabul sudah. Soalnya tiap hari aku paksa dia makan piscok sisa jualan, Mba. Maaf sekali lagi bukan meledek Mba atau gimana... " Jawab Indri dengan sedikit kuatir atas sikapnya hari ini kepada Mba Amel yang begitu perhatian padanya. 

Iya, kenapa cuma Indri yang diperhatikan? Padahal teman-temannya yang lain malah pada cekikikan nggak ditegur apa-apa. Beginilah nasib. Indri tahu, semenjak proses ta'arufnya dengan Alif diketahui oleh kalangan terbatas Rohis kampus, ada beberapa senior yang agak sensitif kepada Indri. Malah tak jarang tatapan sinis mendarat di wajahnya dari beberapa akhwat cantik dan bonafid. Mungkin mereka heran, kok bisa-bisanya Alif suka dengan Indri yang tidak lebih baik dibanding mereka. Baik dari rupa maupun penampilan. Hal ini pula yang membuat Indri tidak terlalu bahagia dengan proses ta'arufnya dengan Alif. Tapi Indri tidak ambil pusing, toh mereka tidak bertanya langsung kepadanya, anggap saja bukan karena berita itu.

Indri hanya gadis biasa. Sangat sopan dan sederhana. Dengan tinggi badan yang tidak sampai 160 cm, badannya yang mungil, kulit putih, pipi tembem dan mata bulatnya yang berwarna coklat memang menjadikan dia lumayan manis.  Baju yang dikenakannya bisa dihitung dengan jari. Mungkin cuma ada 10 potong stelan baju yang biasa dikenakannya. Disaat gadis-gadis lain berlomba menambah koleksi baju-bajunya, Indri hanya bisa mengotak-atik hari saja, baju dan jilbab yang dikenakan tetap berputar yang itu-itu saja. Sampai-sampai pernah teman kuliahnya hafal dengan Indri dari kejauhan hanya dengan melihat bajunya saja. Saking nggak pernah ganti koleksi.

Indri cukup cerdas. Indeks Prestasi Kumulatifnya (IPK) selalu terjaga di atas tiga koma. Biaya hidupnya sehari-hari dipenuhi dari beasiswa, hasil mengajar privat Almira dan kadang dari proyek serabutan. Cukup? Oh tentu tidak. Tak jarang Indri puasa Nabi Daud untuk menyelaraskan kondisi keuangannya. Tapi Indri punya sahabat yang sangat baik, Lucy. Dia selalu siap membantu jika Indri kesulitan keuangan. Tapi Indri bukan peminta-minta, dia akan membayarnya walau dengan memberikan Lucy les privat Alqur'an, tugas kuliah atau apapun sampai jadi pendengar setia curhatan Lucy soal asmara. 

Keadaan Indri ini belum diketahui Alif. Entah setelah ta'aruf Alif akan menerima Indri yang hidup sebagai anak yatim piatu dan sangat sederhana ini masih akan dilanjutkan atau tidak, yang jelas Indri sudah pasrah. Alif berasal dari keluarga yang kaya, berpendidikan tinggi dan cukup terpandang. Berbeda sekali dengan keadaannya. Tapi anehnya, Alif tetap melanjutkan proses ta'arufnya setelah bertukar biodata. Mengapa dia begitu yakin dengan Indri? Apakah karena kasihan? Ah, tidak juga, karena dalam biodatanya, Indri tidak menuliskan statusnya yang yatim piatu. Kuatir memelas iba. Sudah menjadi rencana Indri untuk menceritakan kisah hidupnya saat bertemu muka saja.

Namun jauh di lubuk hati Indri masih tersimpan rapi sesosok lelaki yang dulu menemukannya termenung di belakang Mushola SMA karena kehilangan dompet saat masa ospek. Lelaki yang memberikan selembar uang sepuluh ribu untuk ongkos pulang. Lelaki yang sudah melihat wajahnya tanpa hijab... Indri ingin lelaki itulah juga yang kelak memberinya bahagia.

Selepas maghrib di mesjid UI, Indri bergegas pulang ke Pondok Puteri. Tak lupa dengan membawa kardus mie instan yang berisi 20 buah piscok yang tidak habis. Indri melewati warung  Mba Minah. Ada Alif yang sedang asyik bercengkrama dengan teman satu angkatannya yang tak sengaja datang untuk menikmati kopi dan pisang goreng krispi Mba Minah yang kesohor itu. Alif tidak melihat Indri, begitupun sebaliknya. 

Indri berjalan gontai menyusuri pinggiran trotoar jalan menuju Margonda. Lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalanan UI. Pondok Puteri lumayan tidak terlalu jauh, jadi cukup dengan berjalan kaki bisa ditempuh dengan mudah. Lumayan, seribu langkah sih lebih. Indri sudah sangat lelah hari ini. Setelah berkali-kali menengok ponselnya. Belum juga ada balasan dari Giwa tentang pesannya yang dikirmkan melalui sms subuh tadi. Mungkin salah nomor. Indri sudah memantapkan hatinya untuk acara ta'arufnya dengan Alif, besok jam 1 siang di Mesjid Palapa. Dengan sisa lelahnya. 


PONDOK PUTERI MARGONDA

Giwa sudah berada di pekarangan Pondok Puteri. Memberanikan diri untuk bertemu Indri secara langsung. Giwa mengenakan kemeja Polo putih yang sedikit menonjolkan otot lengannya, celana jeans Levi's berwarna biru tua dan sepatu kulit Obermainn coklat muda yang semakin menambah kegantengan Giwa. Rambutnya yang tertata rapi, garis wajahnya semakin dewasa. Sosok itu sangat modis dan elegan. Giwa mulai memperhatikan gaya dan penampilannya semenjak dia menjadi CEO perusahaan start up yang dirintisnya bersama dua orang temannya di Malaysia. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan dan aplikasi sistem untuk mengolah data metalurgi. Giwa sudah hidup mapan di Malaysia. Oleh karenanya dia kini berani pulang menemui Ambu. Sekarang Giwa sudah sukses seperti yang dilakukan almarhum Mamat. Ini adalah janji Giwa kepada Ambu, ibunda Giwa. Mandiri dan sukses seperti Ahmad Juwana alias Mamat yang sudah pergi mendahuluinya kepada Sang Pencipta. 

"Assalamu'alaikum...", sapa Giwa kepada penjaga kost, "Maaf Mas, apakah benar disini ada mahasiswi jurusan Farmasi bernama Indri?" Tanya Giwa kepada Mang Udin yang sedang asyik mengisi teka teki silang di teras depan. 

"Wa'alaikumussalam, Mas siapanya Mba Indri ya?" Mang Udin balik bertanya sambil memandang Giwa dari ujung rambut hingga ujung sepatu. 

"Saya kakak kelasnya, Mas... bisakah saya bertemu dengan Indri sebentar?" Jawab Giwa sambil memandang sekeliling ruang Pondok Puteri yang terdiri dari 2 lantai itu. Siapa tau ketemu Indri. 

"Belon pulang, Mas... Mba Indri kalau pulang habis maghrib atau habis Isya. Biasanya suka ngajar les dulu ke rumah Alora apa Adira gitu ... Eh, Adira mah kredit motor saya yah,.. Siapa ya namanya.. anak SMA yang pernah kesini juga tuh.." Jawab Mang Udin kocak.

"Almira, bukan?" Selidik Giwa. 
"Iyaa... Almira... nah ntu die namanya, bener..!" 

"Terus, Mas kesini mau ngapain? Kok Mas ganteng banget ya, mirip bintang film siapa gitu...yang maen film kebut-kebutan di bis sekolah sama perempuan cantik..." 

"Keanu Reeves?" Jawab Giwa polos. 
"Iya bener! Keanu Reeves... " Mang Udin memutari badan Giwa dan berusaha memastikan kemiripannya dengan Keanu Reeves. Giwa yang masih berdiri di pekarangan kost, mulai merasa tidak sabar lagi. 

"Maaf, Mas, Saya kesini mencari Indri, bukan jumpa fans begini." Jawab Giwa sambil tersenyum hambar melihat tingkah Mang Udin. 

"Oke.. kalau Mas nggak percaya, biar saya paranin ke atas dulu ya, siapa tau dia udah datang tapi saya nggak ngeh. Mas tunggu aja disini. Duduk di kursi tunggu.. silahkan.." Mang Udin masih dalam ketakjubannya kepada Giwa. 

Giwa bernafas lega. Coba sedari tadi dipersilahkan duduk. Dia sudah pegel berdiri. Giwa akhirnya bisa sedikit menenangkan dirinya. Tak sabar ingin melihat Indri dan menjelaskan semuanya. Jangan sampai ada kesalahpahaman. Dan Giwa ingin menyampaikan hasil istihkarahnya selama ini. Ah, bukan itu juga... Giwa rindu! Ya, Giwa rindu dengan Si Candy-Candy. 

Giwa mengambil koran yang tersedia di ruang tunggu. Sudah lama tidak membaca koran Indonesia. Dilihatnya kolom pertama tentang lomba industri kreatif dari  Kementrian Perdagangan dan Perindustrian yang baru. Wow, Giwa langsung tertarik sekali. Ini peluang emas! Perusahaan start up-nya bisa diikutkan dalam lomba ini dan siapa tau bisa menjadi jalan mulus untuk membuka bisnis di negara sendiri. Giwa semakin khusyuk membaca baris demi baris kata-kata dalam koran harian ibukota tersebut.

"Assalamu'alaikum, Mang Udin... saya pulang!" Indri mulai memasuki pekarangan. Ditutupnya pagar kost dengan perlahan. Mata Indri menatap sosok yang sedang duduk di teras depan, sedang membaca koran yang dibukanya lebar-lebar sampai hampir menutup muka si pembaca. Yang terlihat hanya ujung rambutnya saja. Indri menatap heran. Tumben Mang Udin serius banget membaca korannya, sampai-sampai tak bergeming sama sekali. Jarang-jarang membaca koran layaknya seorang eksekutif muda, palingan juga TTS.
Indri melanjutkan langkahnya, baru tiga langkah, suara ponselnya berdering.  Dari Almira!

Sudah biasa. Telpon dari anak yang satu ini pasti membuat Indri senewen. Ngagetin.
"Kak Indri... tolongin Al... website-nya nggak bisa dibuka! Coba sekarang Kak Indri ke warnet dech.. bukain dari sana siapa tau bisa! Ini penting banget..." 

Hadeuhh. Masalah lagi.
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan UMPTN. 
"Al, Kakak baru aja pulang. Nanti ya, mau mandi dulu bentar. Udah lengket ini keringat di badan dari pagi, nanti Kakak cek, tenang aja.." Jawab Indri. 

"Enggak Kak, musti sekarang... Almira nggak mau entar... ini jantung Al sudah mau copot... udah nggak sabar lagi pengen lihat pengumumannya, please... " Almira memaksa. 

Akhirnya Indri menyerah juga. Dia berjalan mendekati ruang tunggu. Diletakkannya kardus piscok sisa dagangannya tadi pagi. 

"Mang, titip piscoknya ya, kalau Mang Udin mau ambil aja... Saya mau ke warnet sebentar, penting!" Indri meletakkan kardus sambil melihat sekilas ujung rambut yang dikiranya Mang Udin tadi. Giwa sangat fokus dengan syarat-syarat lomba yang harus dipersiapkannya karena ternyata deadline tinggal hari ini pukul 24.00.

Indri hanya menghela nafas panjang dan langsung bergegas keluar dengan ponsel yang masih melekat di telinganya. Indri tidak diberi kesempatan bahkan sekedar untuk menutup telponpun tidak boleh. Begitulah, Almira sangat cerewet, dia ingin benar-benar memastikan bahwa Indri menuruti keinginannya. 

Giwa masih asyik dengan korannya. Dilihatnya Swiss Army di tangan kanannya menunjukkan pukul 19.30 malam. Dia berfikir sejenak. Bingung harus bagaimana. Antara menunggu Indri atau meyiapkan bahan untuk lomba. Banyak berkas yang harus diisi dan diupload. Giwa memutuskan untuk mencari warnet sekarang juga. Nanti setelah selesai dia akan balik lagi ke Pondok Puteri, toh Indri pun belum pulang, pikirnya. 

"Mas.. Mas... Saya mau pamit sebentar!" Giwa memanggil Mang Udin yang baru saja menuruni tangga. 
"Mba Indri belon pulang , Mas, tadi kata Mba Lucy, dia rapat di mesjid UI, bentar lagi pulang sih biasanya, nggak sampe malem, kecuali dia nginep di rumah temennya. Tapi belum ada kabar atau sms juga sih kalau dia mau nginep" Panjang lebar Mang Udin menjelaskan. 

"Iya Mas, nggak apa-apa,  Saya mau ke warnet sebentar aja kok, nanti Saya balik lagi kesini. Ada yang harus Saya kerjakan!" Giwa segera meninggalkan Pondok Puteri. 

Mang Udin hanya mengangguk dan melanjutkan TTS nya. Duduk di ruang tunggu, seperti biasanya. 

Giwa memasuki warnet. Di sana ada Indri yang sudah terlebih dulu datang. Ruangan warnet disekat-sekat dengan batas lumayan tinggi. Siapapun tidak bisa saling melihat. Semua asyik dengan urusannya masing-masing. Dan juga, ini untuk menjaga privasi si pengguna warnet. Ruang komputer Indri dan Giwa bersebelahan. Persis.

Indri menyerah. Website UMPTN ternyata memang sedang down, error. Indri lalu bergegas kembali ke Pondok Puteri. Sedangkan Giwa baru memulai misinya untuk mendaftarkan perusahaan start up miliknya dalam lomba industri kreatif.

Indri memasuki Pondok Puteri dengan sisa tenaganya yang dimilikinya. Dia buka pagar dengan perlahan dan berjalan menuju teras depan, tempat Mang Udin biasa berjaga-jaga. 
"Mang Udin... asyik bener tadi baca korannya. Tumben. Biasanya ngisi TTS." Indri mendekati Mang Udin.

"Eh, Mba Indri...udah dateng! Tadi ada yang nyariin... cowok ganteng... lah, namanya siapa ya tadi?" 
"Nyariin saya? Cowok ganteng? Ah, becanda aja Mang Udin. Salah alamat kali Mang, Nama Indri kan pasaran, di kost-an sebelah juga ada yang namanya Indri dan memang sering didatangi pacarnya yang ganteng. Jangan-jangan dia salah alamat, Mang!" Jawab Indri sekenanya. 

"Oh, iya, bisa jadi ya, habisnya beda banget sama cowok-cowok yang suka nyariin Mba Indri. Biasanya kan cowok berjenggot, celana ngatung atau celana gunung gitu ya. Nah, kalau tadi itu cowoknya beda, ganteng banget dan gayanya necis!" Mang Udin berusaha membuat konklusi. Setelah meminta sepotong piscok dari Indri, Mang Udin pamit keluar sebentar kepada Indri hendak membeli kopi untuk agenda begadang malam ini menonton pertandingan sepak bola tim kesayangannya, Persija.

Indri duduk di kursi teras. Ingin melepas lelah sebentar dan penasaran dengan koran yang dibaca Mang Udin dengan serius tadi. Dibacanya perlahan. Matanya terkejut melihat setumpuk surat yang tergeletak di atas meja. Tepat di sebelah kardus piscok miliknya. Diambilnya surat itu satu per satu. Kaget bukan main ketika Indri melihat namanya tertulis rapi di sampul depan surat itu.

Kepada : 
Indriana Larasati
Pondok Puteri, Jl.Srengseng Sawah No.19, Depok, Jawa Barat 15154

Buatku? 

Indri refleks berdiri. Dibaliknya amlop surat tersebut satu per satu untuk memastikan siapa pengirimnya. 

"Astagfirullaah... surat dari Kang Giwa?" Indri terperanjat.

Lamat-lamat dilihatnya sosok gagah memasuki rumah kost, pandangan Indri tak berpaling sedikitpun dari fokus kedua bola matanya yang indah itu. Tangannya gemetar. Tubuhnya mulai panas dingin. 

"Assalamu'alaikum..." Giwa mengucap salam sambil berjalan menuju teras. Hatinya berdegup kencang saat melihat gadis yang tengah berdiri di ruang tunggu. Giwa berusaha mengenali jilbab biru yang dikenakan gadis itu. Giwa masih hafal benar. Jilbab biru yang dikenakan Indri satu tahun yang lalu. Saat kejadian di halte Asrama. Saat Giwa mengutarakan perasannya kepada Indri. 

"Wa...Wa'alaikumussalam... Kang.. Kang Giwa?" Indri seolah tak percaya.

"Indri?" Giwa memastikan. Mata elangnya tak berhenti menyelidiki.

Keduanya saling berpandang. Dari jarak dekat. Hanya Isyarat mata yang berbicara. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Hanya bulir air mata yang mulai menggenangi keduanya. Satu per satu bulir itu menetes anggun. Mengiringi keheningan dua insan. Giwa yang berusaha tegar, tak kuasa melihat gadis manis didepannya yang terlihat sangat lusuh dan berantakan. Walau begitu, wajah manisnya tak sedikitpun terkurangi. Tetap seperti dulu. Tapi lebih sayu. 

"Ind, apa kabar?" 
"Baik, Kang..." satu bulir bening menetes lagi. 

"Tentang pinangan lelaki lain itu, putuskan saja setelah kamu membaca surat Akang ya"

Indri menoleh surat yang saat ini sedang dipeganginya. Lalu perlahan memandangi Giwa lagi. Tak ingin melepaskan momentum ini. Setidaknya memastikan bahwa ini bukan mimpi. Sang Ksatria kembali lagi. 

Dari kejauhan, Alif memandangi dua sejoli itu. Alif sadar benar apa yang tengah terjadi antara Giwa dan Indri. Niatnya menyusul Giwa ke Pondok Puteri karena sudah lama sekali motornya yang dipinjam Giwa belum juga kembali, ternyata mengungkap teka-teki siapa Si Candy-Candy sebenarnya.

Alif pergi. 
Dengan hati yang terlanjur perih.

(Bersambung)