Saturday, April 11, 2020

Untukmu para pejuang Covid 19


                NYAWA MULIA 

                                                               
                Walaupun kau bisa memilih
                Tapi kau tak mau pamrih
               Walau kau bisa merintih
              Tapi kau tak mau perih

             Ini bukan soal biasa
              Ini tentang buncahan rasa
             Menghargai sebuah nyawa 
                Dengan taruhan beribu nyawa 

               Jasamu para pejuang corona 
              Syurgalah balasan dari-Nya
              Bumi murka pada yang jumawa
                Karena syahidmu teramat mulia 

                    


Sunday, February 12, 2017

Melanjutkan yang Tiada


Aku ingin bercerita,
Tentang seseorang yang tak kuduga
Hadir tanpa sengaja, mendatangi dengan senyum dan tatapannya
Mempesona...

Pertama kali melihatnya
Aku dibuat bertanya-tanya, seketika aku merasa ada yang salah...
Kenapa dia memandangiku begitu rupa?

Tentangnya yang membuatku tersipu,
Bola matanya yang bulat sempurna dan bibirnya yang mungil,
Betapa ramah tegur sapanya padaku,
Hangat...

Pertemuan kedua,
Entah kenapa, cerita bergulir begitu saja
Dia berkisah tentang perjuangan hidup dan ketulusan cinta
Hikmah terbesar yang memberinya hidayah tak terkira

Begitu lepas tanpa ada batas
Begitu renyah di setiap kalimatnya
Di dekatnya, seketika aku merasa nyaman
Hingga akhirnya, cerita berbalas cerita...

Sampai pada sebuah lembaran
Tentang sahabatnya yang telah tiada
Ternyata, wajahnya mirip denganku... katanya

Betapa Maha Asih Sang Pencipta
Kenapa seseorang bisa serupa,
Mungkin iya,
Ada hati yang istimewa
Tengah menunggu kita,
Melanjutkan yang tiada... atau terkubur sekian lama








Sunday, January 15, 2017

Mendapatiku





Saat kau butuh sandaran
Jangan heran, jika kau mendapatiku tersenyum dan mendengarkan

Saat kau butuh dukungan
Jangan heran, jika kau mendapatiku siap memberikan apapun

Saat kau lemah dan putus asa
Jangan heran, jika kau mendapatiku menengadah khusyuk berdo'a

Untukmu,
Yang kelak akan melindungiku, bertanggung jawab atasku,

Jangan bertanya,

Karena kita telah dipersatukan bukan atas kebetulan.




Sunday, December 18, 2016

Ibuku


Kadang saatku pulang ke rumah
Aku buka pintu dan mengucap salam
Saat itu siang atau sore hari
Ibuku menjawab salam dan menghampiriku
Kucium tangan dan memeluknya
Namun, kadang pelukan itu tidak seerat biasanya

Kulihat wajahnya, terlihat senyum palsu
Kulihat raut wajahnya, wajah yang lelah
Ibuku kembali membereskan rumah
dengan lagu-lagu kesukaannya,
Kuperhatikan, wajahnya murung

Waktu magrib tiba
Ibuku mengambil air wudhu dan shalat
Sehabis shalat ibuku berdo'a
dan termenung dalam waktu yang lama,
Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya
Setelah itu ibuku shalat sunnah
Dan sujud lama...

Kudengar suara-suara kaki
Ternyata sudah pagi hari
Sekitar jam empat pagi
Kuberanjak dengan mata yang sayu
menuju ke ruang tamu

Kulihat di meja,
Ada laptop dan kertas juga buku yang berserakan
Menandakan ibuku tadi malam bekerja
dan kadang begadang menulis cerita

Kucari ibuku,
Ternyata ia sedang menyiapkan sarapan
Dia kadang harus terburu-buru karena waktu cepat berlalu

Andai kubisa meluapkan kata-kata dalam hatiku
tentang sosok ibu yang baik seperti dirinya,

"Umi, mengapa Umi memaksakan diri untuk terlihat senang?"
"Umi, kan Lala udah bilang jangan begadang nanti Umi sakit"
"Umi, kenapa Umi kerja terus?"
"Umi, kenapa setiap mengobrol, Umi selalu lelah?"
"Umi, kenapa Umi sering lama bekerja di depan komputer seperti Abi? Kalau gitu Lala ama komputer juga... Ririn juga punya laptop kecil."

Aku ingin belajar sebaik-baiknya.
Agar dapat membahagiakan Umi.

Lala sayang Umi...

(Sahla Hafidzzah Az-Zahra)






Friday, June 10, 2016

Kenapa Harus Bintang?



Padahal Bulan menjanjikan kehidupan
Padahal Bulan adalah tujuan mimpi-mimpi
Ingin terbang? Ke Bulan
Wajah indah? Seperti Bulan

Tapi tahukah kamu tentang Bintang? 
Dia kecil terlihat padahal nyatanya mega
Dia lenyap tatkala padahal tertutup awan
Dia selalu ada... tanpa kau sadari adanya

Dan ketika kau memandang Bintang
Tak sebersitpun kau ingin terbang kesana, bukan?
Karena terlalu jauh? Oh bukan karena itu
Tapi kau berharap Bintang itu akan jatuh

Menemuimu
Menemanimu
Mencapai mimpi ke Bulan

Kau bilang Bulan dan Bintang sama jahatnya
Bulan dan Bintang sama baiknya
Mereka sama indahnya,
Sama mematikannya

Tapi kau ingin memiliki keduanya
Kau tak berani memilih salah satu dari mereka
Kau biarkan mereka bersandingan
Karena keduanya memberi terang
Dan indahnya bisa kau rasakan tanpa kecuali

Ah, ksatria kata-kata
Kepengecutanmu membuat Bulan dan Bintang memupuk harap
Menyaingi pungguk bahkan lebih terpuruk

Putuskan...
Karena baik Bulan dan Bintang 
Sama-sama menunggu jawaban...

Tuesday, May 17, 2016

Dua Bidadari



Kulihat matanya, 
Jeli

Kulihat tubuhnya,
Semampai

Kudengarkan suaranya,
Menyenangkan

Kuperhatikan tingkahnya
Lucu

Kupeluk mereka
Hangat

Kutanya maunya
Sederhana

Kuajak bercerita
Seru

Kutegur kenakalannya
Sayang

Kuluruskan akhlaknya
Cinta

Kalian dua bidadariku
Karena kalian terlahir
Dari Syurga

Baiti... Jannati...