Thursday, August 15, 2019

Satu Tahun Meraih KITA


Dalam diam selalu ada kejutan. Seperti halnya kemarin, penampilan para karyawan RSUD Kebayoran Lama ini membuatku terpukau. Siapa sangka seorang dokter bisa begitu lihai menari, seorang ahli IT begitu mantap berpantun dalam upacara adat "palang pintu". Rasa kagum itu kini tak terperikan.

Seorang petugas sterilisasi alat begitu piawai memainkan dawai gitar dan dan bernyanyi lagu Krispatih. Ada pula bidan dan dan perawat yang begitu anggun sebagai pemandu acara. Suaranya merdu merindu. Tak luput, syahdunya do'a dari seorang analis laboratorium yang menggetarkan hati. Aamiin. Harapan untuk RSUD Kebayoran Lama semoga terkabul menjadi kenyataan. 

Tarian tongkat tim security menggegerkan suasana. Sat! Sat! Sat! 
Bangga pula, ketika seorang pengurus barang menjadi dirigen lagu kebangsaan, begitu cantik dalam riasan make up apik dan elegan meliukkan tangan dan jarinya.

Dalam suasana riuh dan ricuh itu, ada seorang Apoteker keren yang berperan sebagai koordinator acara. Hilir mudik berkoordinasi dengan Ibu-ibu Satuan Pengawas Internal (SPI) yang menjadi ketua panitia dan wakil ketua. Begitu kompak dan dan mempesona dengan balutan kostum cantik dan riasan maksimal by Wardah kosmetik (hehehe,iklan). 

Di ruang makan, tim cleaning service yang handal mengatur konsumsi agar terbagi rata dan adil. 
Dan di setiap sesi tak lepas dari jepretan mas Humas dan mba Tenaga Teknis Kefarmasian. 

Saat potong tumpeng, hadir biduan andalan dari dokter gigi yang tak pernah hilang semangat dan kehebohannya. Begitupun dokter spesialis yang mantap menyanyikan lagu dalam sesi karaoke. 

Tak lupa tim UPSRS yang ternyata bisa tampil karaoke dangdut menggelayut jiwa.

Petugas admisi, Rekam medis dan runner, radiografer, dietisien, fisioterapis, ATEM, Kesling, K3 berbaur mengambil peran pembantu umum. 

Tim keuangan, tata usaha dan dan pengadaan melebur menjadi satu dalam keseruan acara. 

Ada yang belum tersebutkah? 
Inginnya kami menyebutkan satu per satu. 
Tak ada yang bisa kami ucapkan di hari spesial ini selain : TERIMAKASIH
Atas kerja hebat dan dedikasinya untuk RSUD tercinta ini. Membangun dari nol hingga koma nol-nol. Dari awal ketika hanya ada aku, kamu, dia, dan mereka ..... Sekarang sudah menjadi KITA. 

Salam cinta tak terhingga, 
Dari kami, direksi RSUD KL, 
Kita Sehat, Jakarta Hebat! 

Love u all, berthousand-thousand 

Wednesday, April 13, 2016

Mencicipi Takdir



Sebenarnya agak riskan kalau bicara soal takdir. Semoga tulisan ini tidak adigung karena telah berani "mencicipi"-nya. Aku menuliskan tema ini karena terlintas begitu saja. Apa sebenarnya yang ingin aku paparkan dari judul yang agak aneh seperti di atas? 

Begini,
Ceritanya aku sedang mengalami kejadian yang berhubungan dengan takdir. Kemudian tibalah pada kalimat yang paling umum diucapkan oleh hampir setiap orang yaitu, "Mau bagaimana lagi? Mungkin ini sudah takdir!". 
Takdir diibaratkan sebuah alasan terakhir dalam suatu permasalahan yang sedang kita hadapi. Setelah kita berencana dan berusaha sesempurna mungkin kemudian menemui hasil yang jauh dari harapan maka kata-kata sakti tadi akan menjadi ending dari cerita. 
Aku hanya bisa tersenyum simpul. Ternyata manusia itu nggak ada apa-apanya ya? 
Kejadian ini mengingatkanku pada peristiwa 10 tahun yang lalu ketika aku masih mengambil perkuliahan profesi apoteker. 

Mau tahu ceritanya kan? Hayuu... 

Suatu kali, dosen pengajar mata kuliah KIE ( Komunikasi, Informasi dan Edukasi) Farmasi memberikan pilihan kepada kami selaku mahasiswa dalam pengambilan nilai ujian KIE. Bagi yang ingin ujian tertulis silahkan dan bagi yang memilih presentasi tentang materi KIE yang nanti akan ditugaskan oleh beliau juga dipersilahkan. Nah, nilai untuk presentasi akan diberikan point tambahan jika kita benar-benar menguasai materi dan bagus dalam penyampaiannya. Menurut kamu, aku pilih yang mana? Hmm... aku pilih yang setia aja dech...#eeaa. Mulai "Gafok" alias gagal fokus. 

Singkat cerita aku memilih presentasi. Selain karena menantang dan seru, aku juga ingin mendapatkan sensasi yang berbeda daripada sebuah ujian biasa. Beginilah aku, kadang suka kepedean. Tapi aku sudah bisa mengukur dan merencanakan dengan sempurna. Aku cari referensi selengkap-lengkapnya, aku buat power point semenarik mungkin, aku buat alur presentasi yang ciamik dan interaktif, bersama temanku, kami berbagi tugas tentunya. Tapi akulah yang paling proaktif untuk menjalankan semua rencana hebat tadi. Dibantu oleh suami yang jago IT pula, ah sempurna...! Aku berlatih setiap hari, membaca makalah tebal yang sudah kami susun berdua dan belajar menjawab pertanyaan yang mungkin digulirkan oleh teman-temanku nanti.

Ternyata apa yang terjadi saudara-saudara? 
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Setelah satu tim selesai presentasi yang menurutku biasa-biasa saja, tim kami mendapat giliran berikutnya. Temanku yang pertama tampil membawakan pengantar materi dan sedikit tentang materi inti. Kenapa? karena temanku ini pemalu dan nggak pedean. Dia minta jatah hanya sebentar dan sedikit saja. Yasudah tak apalah, toh nanti kalau bisa saling melengkapi jatuhnya bagus juga. Aku merasa siap dengan amanah ini. 

Saat temanku presentasi semua orang memperhatikan dengan baik dan penasaran. Alhamdulillaah, opening berjalan lancar. Giliranku nanti akan aku buat lebih mempesona dan audiens akan berdecak kagum. Materi kami waktu itu tentang "Pusat Informasi Obat" atau dikenal dengan istilah PIO. 

"Baiklah materi berikutnya akan dibawakan oleh teman saya... " Begitu closing dari temanku. 
"Ok, teman-teman mari kita lihat PIO yang sudah berdiri di Indonesia, Asia dan juga Eropa berikut ini.."
Semua mata tertuju padaku, hening dan ekspresi mereka penuh dengan rasa ingin tahu ibarat anak bayi berumur 6 bulan yang sedang menatap mainan gantung yang berputar dengan aneka bentuk lucu, mengeluarkan bunyi unik dan kerlip lampu warna-warni. kebayang kan matanya yang memandang jeli dan tak berkedip, tangannya yang meronta-ronta ingin menyentuh dan kaki mungilnya yang bergerak tak bisa diam. Lucu... jadi pengen punya bayi lagi #Ehh.

Yess!!! Aku berhasil menghipnotis mereka. 
Tapi apa yang terjadi?? Baru saja aku mau memulai presentasi dan slide sudah siap tampil, tiba-tiba..... Jrepp!!! Seketika lampu mati dan slideku hilang tanpa pamit.
Hancur sudah. Rencanaku selama 2 minggu itu tak berdaya dengan satu takdir yaitu mati listrik.

Kecewa?? Banget...
Ini sudah takdir.  

Aku sedih. Kecewa. Lelah yang sia-sia. Astaghfirullaah.

Itulah takdir Allah. Bukan "Mungkin ini sudah takdir" tapi memang inilah takdir. Jangan pakai kata "mungkin". Seolah kita meragukan arti dari ketetapan Allah dan seolah kita kecewa dengannya sampai berujar "Mau bagaimana lagi?". Ah, manusia terkadang perkataannya pun menyakiti Sang Pencipta.

Jika diibaratkan takdir adalah makanan yang sedang kita masak, ketika hampir matang, apa yang biasa kita lakukan? Mencicipinya, bukan? Kenapa kita tidak langsung menghidangkannya di meja makan? Karena kuatir nanti yang makan menjadi salah kaprah. Mau bilang enak tapi sebenarnya tidak. Mau tidak makan, nanti menyinggung yang masak. Jadi sebelum dihidangkan, kita harus "mencicipinya" agar kita tahu seperti apa rasanya. Jika kurang enak, maka tambahkan saja bumbunya. Kalau kurang asin tambahkan garam, kalau kemanisan tambahkan air, kalau kurang sedap tambahkan kaldu. Selesai!

Kurang lebih seperti itulah takdir jika diibaratkan masakan yang sedang kita olah.

Akhirnya aku ambil "bumbu" takdirku.
Aku tambahkan garam kehidupan agar aku paham tentang pentingnya ketawadhuan.
Aku tambahkan air ketakwaan agar aku paham arti tawakkal dalam setiap kesempurnaan ikhtiar.
Aku tambahkan kaldu iman agar aku memahami bahwa baik dan buruk suatu kejadian jawabannya hanya syukur dan sabar.

Aku tersenyum puas laksana seorang Chef kepala yang melihat respon positif dari pelanggan yang menikmati menu baru dan resep baru yang baru saja dibuatnya. Great!!!

Demikianlah ceritaku ini, semoga berkenan dan sebelum berakhir kita simak yuuk hadits berikut ini : 

”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupnya) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).

Kita boleh mencicipi takdir. Tapi ingat, jangan lupa tambahkan bumbunya. Biar seddeepp....

Friday, April 1, 2016

"Kalimat yang Tertunda"



Masih ingat dengan cerita Si Aya? 
Ya! Aya Dinata Kusuma. Calon dokter. Di tulisanku sebelumnya yang berjudul "Tampah yang Tertumpah". Kini aku ingin melanjutkan cerita Si Aya yang kini sudah duduk di bangku SMA.

Bismillaah. 
Tulisan ini adalah tulisan dalam rangka menjawab tantangan dari Bang Syaiha founder ODOP tentang "Menulis sekali duduk". Okeyy Bang... yuk marreee.... 

Tak pernah aku sangka.
Aku punya rumah kedua. 

"Aya... kamu mau ikut ekskul filateli nggak? Hari ini kita ketemu sama kakak pembinanya.." Ajak Ira teman sekelasku.
"Aduuh Ir, aku sebenarnya mau banget. Tapi aku hari ini nggak bisa.. aku harus segera pulang." Jawabku singkat.
"Yaah sayang doong. Apa mau aku daftarkan saja nama kamu Ay.." Ira memberi solusi.
"Boleh" Jawabku mengakhiri. 
Tak ingin ada pertanyaan lagi dari Ira, sengaja aku tidak memperpanjang jawabanku.

RUMAH SAKIT ASY-SYIFAA

"Assalamu'alaikum Mak.." Aku menyapa orang yang paling kucinta di dunia.
"Wa'alaikumussalam Neng... udah pulang sekolahnya?" Jawab Emak.
"Aku yang pulang Mak... bukan sekolahnya yang pulang... coba ulangi Mak... Hehehe" Aku mencoba membuat Emak tersenyum. 
Dan benar saja, Emak langsung tersenyum simpul. Di tengah sakit yang dideritanya kini. Dia hanya terbaring tak berdaya. Dokter memvonis Emak menderita kanker paru-paru. Tubuhnya kini tinggal tulang dibalut kulit. Aku tak bisa menahan kesedihanku tiap kali menatap wajahnya yang terlihat 10 tahun lebih tua dari usianya. Bertambah pilu ketika orang-orang yang tidak sengaja melihat Emakku menyangka bahwa aku adalah cucunya. Emak... sabar yaa... Aya sayang sama Emak.

Aku lalu menuju ruang perawat atau Nurse Station
"Maaf Suster... Saya mau tanya. Apakah obat atas nama Ny.Liani sudah diberikan semua?" Tanyaku kepada salah satu suster di sana.
"Oh kamu Ay... sudah...sudah.. tenang aja. Eh, gimana tadi di sekolah, lancar?" Jawab suster cantik itu seolah sudah mengenalku secara pribadi. Ah, pasti ulah Emak nich! Emak suka bercerita apa saja tentang keluarga kami kepada semua orang termasuk suster cantik tadi. Suster yang bernama Asih.
"Alhamdulillah lancar, Suster. Terimakasih ya atas bantuannya. Emak sudah merepotkan Suster." Jawabku berterimakasih.
"Enggak merepotkan lah Ay... Saya ikhlas kok. Apalagi Emak kamu nggak ada yang nungguin selain kamu, kan?" Suster Asih memberikan argumentasinya.
"Iya Suster... sekali lagi makasiiih banget.." Aku memberikan senyuman terindahku kepadanya.

"Neng... Emak haus!" Kata Emak menghentikan mataku yang sedari tadi terfokus pada Buku Geografi. 
"Oh iya Mak... sebentar Neng ambilkan air" Kataku segera.
"Makasih ya Neng... Eh, kamu tadi lagi baca Buku ya? Ada ulangan besok?" Tanya Emak.
"Biasa Mak... ulangan harian. Besok Ulangan Geografi" Jawabku sambil tersenyum.

Tapi sayang, Emak tidak akan pernah bisa melihat senyumku. Hanya isyarat mata saja yang bisa ditangkapnya. Kenapa? Karena aku harus selalu mengenakan masker N95 selama berada di dekat Emak. Masker khusus untuk mencegah penularan bakteri Tuberkulosa. Walau begitu, Emak tetap memahami isyarat mataku. Saat senang, sedih, galau, gamang, ragu... dan sebagainya hanya dengan isyarat mata. Seperti telepati kalau kata Bang Syaiha dalam tulisannya di novel yang berjudul "Sepotong Diam" .  Novel perdana yang aku baca dan aku terpesona. Aku juga mengikuti program ODOP yaitu One Day One Post yang diusungnya. Aku sering bercerita kepada Emak tentang hobi baruku ini.

"Neng... Emak sekarang sudah usia berapa ya?" Kata Emak melanjutkan.
"Hmm... baru 40 tahun Mak.. " Jawabku sambil menerawang berhitung usia Emak dari tahun kelahirannya.
"Hehehe.. Emak sudah tua yah... Neng, kalau Emak meninggal nanti.. kamu sama siapa ya?" Mulai lagi pembicaraan tentang kematian. Tema yang paling aku benci.
"Aduuh... Emak jangan ngomong gitu ah... Neng nggak mau belajar nich.." Ancamku.
"Neng... Emak merasa sudah tidak sanggup dengan penyakit ini. Obat yang Emak minum, yang disuntikkan berulang kali... hanya menyisakan sakit yang berkepanjangan. Emak ingin lepas dari derita ini. Juga melepaskanmu dari derita ini... Emak kasihan sama kamu Neng... " Air mata Emak menetes ketika melantunkan kalimat itu.
"Mak... jangan begitu,Mak. Pasti Allah memberikan kesembuhan kepada Emak asalkan Emak juga semangat untuk sembuh.." Aku mulai berkaca-kaca.
"Tadi pas dokter visite, Emak tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka tentang penyakit Emak.." Air mata Emak bertambah deras laksana sungai yang tak sabar mencari muaranya.

Astagfirullaah!!!
Emak akhirnya tahu juga? Tentang statusnya sebagai penderita kanker paru-paru stadium 3 !!!
Emaaakkk.... kenapa harus tahu??? 
Ya Alloh... berusaha aku menutup-nutupi diagnosa penyakit Emak selama 2 bulan di Rumah Sakit ini tapi semua sandiwaraku gagal total hari ini. 
Pasrah.

"Neng... jangan sedih... Emak tetap semangat kok... seperti kamu yang selalu semangat pulang pergi berangkat sekolah dari sini." Kata Emak sambil tersenyum ketir. 
 "Neng... Emak mau tidur dulu yah. Kamu belajar di taman aja. Kasihan belajar sambil maskeran kayak musuhnya kura-kura ninja begitu... Hehehe" Emak masih bisa bercanda. 

Emak terlelap.
Aku duduk di kursi taman sambil memegang Buku Geografi yang sedari tadi mentok di halaman 10 dan nggak balik-balik. Mentok! Seperti pikiranku sekarang tentang kondisi Emak. Aku hanya bisa menagis. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Kata dokter... Emak tinggal menunggu waktu. 
Buku Geografiku basah kuyup. Dengan air mataku.... 
Besok tanggal 2 April. Ulangan Geografi Bab 3 -4. Aku sudah siap mendapat nilai jelek. Karena semua yang aku baca, ambyarrr.... buyar tak karuan...
Eh, sebentar.... besok tanggal 2 April? Itu kan tanggal ulang tahun Emak... Aduuh kok aku bisa lupa yaa... Astaghfirullaah... segera aku ambil senjata perangku... Selembar kertas dan sebuah pena!
Aku senang menulis. Tak heran tulisanku sering dimuat di beberapa koran keluarga. Salah satunya adalah koran "Wanita Indonesia". Dari tulisanku itu aku akhirnya mendapat banyak sahabat pena. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Tanah Abang sampai Rawa Bangke... Hihii... Makanya aku tertarik dengan ekskul filateli. Ngumpulin prangko dari para sahabatku... lumayan banyak aku simpan. Termasuk salah satunya dari seorang siswa taruna yang sedang menjalani pendidikan di Jepang. 

Aku mulai merangkai kata. Dengan uraian air mata yang berulang kali mengganggu loncatan aksara yang aku kumpulkan.

Emakku Sayang...
Aku ingin mengatakan sesuatu... 

Belum selesai aku menuliskan surat cinta untuk Emak, satu teriakan membuat jantungku tak terkendali.

"Ayaa... Ayaa.. cepat kemarii... Ibu kamu...." Teriak Suster Asih.
Secepat kilat aku berlari menuju ruang rawat Melati tempat ibuku berada. Perasaanku tak enak.
"Emak... Emaak... bangun Mak..?" Aku berusaha menyadarkan Emak yang tergolek tak berdaya.  
"Ay.. denyut nadi ibumu semakin turun... sebaiknya kamu temani dia terus dan tuntun ibumu melafalkan kalimatullah..." Begitu pinta Suster Asih.
Air mataku semakin deras. Menyusul anak sungai ibuku yang sudah terlebih dahulu berlari menuju muaranya. Apakah ini tanda-tandanya waktu Emak sudah hampir tiba?
Emaaakkk....!!!! jangan tinggalkan Aya.... !!! Aku menjerit dalam hati.

Kucium kening ibuku berulang kali, kuusap wajahnya yang pucat pasi, kurasakan tubuhnya dingin... dingin sekali... kugenggam tangan kanannya yang masih terhubung selang infus. Kulihat bibir Emak yang berusaha mengucapkan sesuatu. Tapi matanya terpejam... tak menghiraukan tangisanku.

"Asyhadu alla ilaaha illaallaah... wa asyhadu anna muhammadarrasuulullaah." Aku menalqinkan kalimah syahadah di telinga Emak.
Tidak ada reaksi apa-apa... Emak sudah tidak bisa merespon apa-apa. Aku terkaget melihat anak sungai yang mengalir di kedua pipi Emak... sambil satu hirupan nafas Emak yang terakhir... aku mendengar ia melafazkan sebuah kata yaitu... "Allaaaaaah..."
Aku mendampingi sakaratul mautmu... kudekap erat ibuku... kutumpahkan semua kesedihanku... kuciumi wajah ibuku... tak perduli dengan masker yang sedari tadi aku lepaskan... aku tak peduli apapun saat ini... apalagi sekedar bakteri... 

Emaaaak... Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun....Tangisku semakin perih.

Hari itu adalah hari terakhir kebersamaan kita, Mak... aku yakin Allah menyematkan husnul khatimah... dengan ujian sakit yang sudah kau derita dari 3 tahun yang lalu. 

Di pusara Emak... aku melanjutkan satu kalimat yang tertunda dalam selembar surat cintaku.

Mak.. selamat ulang tahun yang ke-41. 

Namaku Aya Dinata Kusuma. 
Aku merayakan hari bahagia Emak di tempat yang tidak pernah aku kira. 

Pernah aku bercerita kepada Emak tentang tantangan menulis di hari ulangtahun pernikahan Bang Syaiha dan Mba Ella Nurhayati. Kata Emak begini..

"Ikutin aja tantangannya Ay... jangan berharap menang. Karena niat yang tulus akan sampai dengan sendirinya... Cinta Bang Syaiha dan Mba Ella teramat indah... kamu nanti kalau menikah harus mencontoh ketulusan Mba Ella yah... wanita cantik yang berakhlak rupawan. Dan semoga juga kamu menemukan jodoh segigih Bang Syaiha... laki-laki brilian dalam keterbatasan yang dimilikinya. Kesungguhannya telah membuka tabir rahmat dan mahabbah Allah... menemukan cinta sejati dalam balutan ketakwaan... " 

Indah nian tuturmu Bunda.... 
Aku berharap siswa taruna itupun seperti Bang Syaiha.

Kuusap lembut pusaramu, Mak.
Doa'ku akan selalu kukirimkan setiap selesai sujudku.. pada-Nya yang teramat indah....








Sunday, March 6, 2016

"Jangan Memulai Sesuatu Yang Tidak Bisa Diakhiri "



" Bu, buatkan tulisan dengan quotes aku dong..." Request dari salah satu anakku. Namanya Sheny. Ohya asal tahu saja, anakku jumlahnya 19 orang menurut update data per Januari 2016 kemarin. Hampir setiap tahun lahiran hitungannya dan tak jarang aku melahirkan kembar 2 sampai dengan kembar 5. Roaming? Nggak apa-apa nanti kisahku dengan 19 anak ini bisa kalian baca di " cerita seru " yaa.

Kembali kepada request tadi. Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa diakhiri. Apakah itu? Bukankah sesuatu itu harus dimulai ? Dan setiap permulaan pasti ada akhirnya. Seperti hidup contohnya, dimulai dari rengekan tangis bayi saat terlahir ke dunia dan diakhiri dengan tetesan air mata saat ajal tiba. Lantas, sesuatu yang dimaksud dengan quotes tadi apa ya?

Cerita ini bermula ketika suatu hari Sheny bertemu dengan sosok yang mengagumkan. Hmm... mulai ketebak kan? Yaudah lanjut tebak-tebakan kedua. Kisah Sheny seperti lirik lagu Raisa : " Ku terpikat pada tuturmu aku tersihir jiwamu, Terkagum pada pandangmu caramu melihat dunia, Kuingin kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu, Ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku slalu di dekatmu " . Lirik yang santun bukan? Iya memang. Tapi coba ditelisik apa makna dari potongan lirik lagu Raisa yang berjudul " Jatuh Hati " tadi. Kemudian kalian pasti sudah melihat video klipnya bukan? Nah, coba dech digabungkan dan dianalisa. Semua berawal dari kekaguman.

Apakah kita tidak boleh kagum dengan seseorang? Jawab : Boleh.

Apakah kita tidak boleh berteman dengan orang yang kita kagumi ? Jawab : Boleh.

Apakah ... ? Sudah jangan tanya lagi ya, semua hal dalam Islam banyak yang bermula dari hukum " Mubah " atau " Boleh ". Contoh hukum pernikahan. Awal hukumnya mubah, kemudian hukum tadi bisa berubah menjadi sunnah, makruh bahkan haram ! Nah lho? Kok bisa berubah ? Kayak Ksatria Baja Hitam aja.. hehe. Yuk serius.. iya benar! Bisa berubah ketika hukum tadi terikat pada kondisi dan situasi seseorang. Contoh, laki-laki yang sudah sangat mapan dalam semua aspek baik harta, tahta dan rupa, kemudian dia tidak tergerak untuk menikah maka hukumnya wajib menikah. Seorang wanita ingin menikah dengan lelaki kaya raya hanya karena ingin hartanya bisa dimasukkan dalam kategori makruh. Kalau yang haram? Ya misalnya ingin menikahi adik sendiri atau ibunya sendiri seperti kisah legenda Sangkuriang.

Jadi? Kekaguman juga bisa berubah hukumnya dari "mubah " menjadi sunnah, makruh atau haram ? Tentu saja. Contoh, ketika kita kagum pada Rasulullah. Apa yang akan kita lakukan? Mengikutinya bukan? Mengikuti atau meneladani akhlaknya, ketakwaannya, kejujurannya dan lain sebagainya. Jadi kira-kira hukumnya apa tuh? Bettul... sunnah! Bahkan untuk urusan ibadah kita " wajib " mengikuti ajaran Rasulullah. Kemudian contoh kekaguman yang menjadi makruh bagaimana? Mau tau yaa..? Penasaran banget sepertinya.... merasa ya? Emangnya sedang kagum sama siapa ? #eeaaa

Oke. Inilah kekaguman yang paling sering terjadi. Hukumnya menjadi makruh karena bisa melalaikan. Contohnya kamu... iya kamu... kagum pada seorang laki-laki atau perempuan. Sampai-sampai teringat selalu, setiap hari setiap detik. Kalau pergi ke pengajian semangat banget karena ingin "curi-curi pandang " . Nah, ini kan sudah melalaikan dan membelokkan niat, bukan? Jika kita masih lajang, ya hukumnya makruh. Karena setiap manusia dianugerahi Gharizatun Na'wu atau naluri kasih sayang. Naluri ingin mempunyai keturunan. Tentu lewat pernikahan dengan orang yang kita kagumi. Oke deal?

Kemudian yang haram bagaimana? Berat nih. Maaf ya sebelumnya, bukannya aku ingin membuat hukum di atas hukum. InsyaAlloh hukum atas segala sesuatu itu hanyalah Alloh yang berhak menentukan. Hak prerogratif Alloh semata. Disini aku hanya ingin berdiskusi saja dan mohon dikoreksi kalau saya salah. CMIIW yaa...
Kekaguman bisa haram atau secara halusnya " dilarang " ketika kita kagum secara berlebihan terhadap seseorang disaat kita sudah terikat. Contoh, ketika kita dalam ikatan khitbah atau pinangan dan ketika kita sudah terikat pernikahan. Hayoo... siapa yang mau protes? Ngacung...!

" Tapi kan cuma kagum masa nggak boleh? Lagian kita nggak macem-macem kok cuma temenan..."

" Kita itu udah kayak sahabat. Semua orang tau kok, dan kita tetap setia sama isteri atau suami kita "

" Serius amat sih. Orang cuma becanda... woles aja keles. Emang nggak boleh bilang "ayank.." , " Honey..." , " Beb..." , lagian kita juga bisa jaga batasan kok "

Oke, itu perasaan kita. Lalu, perasaan orang di sebelah bagaimana? Apakah bisa dijamin sama? Dan kalau sama, apakah pula syaitan tidak tersenyum? Ada misi dengan bonus besar sudah menanti jika ia bisa sukses menggoda kedua insan tadi. Yakin bisa melawan syaitan?

Terus aja. Alasan apa lagi yang akan keluar dari otak kita? Alasan apapun layaknya peluru yang siap ditembakkan. Satu per satu melemahkan benteng kita. Awalnya peluru tadi hanya "nyerempet" di ujung lengan kita. Oh, nggak kena kok cuma sakit dikit habis itu hilang. Kayak dijepret karet gelang cuma level 10. Setelah itu peluru berikutnya bersarang di kaki kita. Aduuuh.... nyeri luar biasa! Tapi tak mengapa, pelurunya bisa dikeluarkan dan beberapa bulan bisa recovery lagi. Asuransi kesehatanku masih belum terpakai.. kan sayang tiap bulan bayar tapi nggak dipakai. Dan peluru terakhir bersarang di jantung kita. Mematikan !!!

Kekaguman ibarat peluru. Ketika dia bersarang di jantung kita maka seketika pula kematian iman bisa terjadi.

Wahai kawan, betapa indahnya Islam yang sudah mengatur semua perikehidupan kita. Fenomena ini sudah ada sejak dulu dan dikenal dengan istilah " Takhbib " .

Apa itu Takhbib? 
Mengapa Rasulullah sampai mengecam perbuatan ini sampai mengatakan bukan bagian dari umatku? 
Cari sendiri yah. Sudah adzan subuh, aku harus stop dulu. Besok insyaAlloh dilanjut.